Media Kampung – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Indonesia tidak sedang menuju krisis seperti tahun 1998 meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menembus Rp18.000 per dolar. Menurutnya, kondisi fiskal dan ekonomi nasional masih dalam keadaan baik, dan pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh sentimen negatif pasar yang bersifat sementara.
Pemerintah terus berupaya menstabilkan rupiah melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dengan Bank Indonesia. Purbaya menyebut bahwa sinergi penuh antara Kementerian Keuangan dan bank sentral akan mengembalikan kepercayaan pasar sehingga rupiah dapat menguat kembali.
Salah satu langkah konkret yang diambil adalah melarang transaksi menggunakan dolar AS di pelabuhan Indonesia. Purbaya meminta pelaku usaha untuk melaporkan jika masih ada layanan yang mewajibkan pembayaran dengan dolar AS, karena hal tersebut dinilai sebagai penyelewengan terhadap ketentuan yang mewajibkan penggunaan rupiah di dalam negeri.
Fenomena ‘sell Indonesia’ yang ramai diberitakan media internasional juga ditanggapi Purbaya. Ia menilai tulisan tersebut tidak sepenuhnya memahami kondisi ekonomi Indonesia. Untuk memberikan gambaran yang lebih akurat, Purbaya mempercepat publikasi laporan APBN KiTA yang menunjukkan kondisi fiskal yang sehat.
Pelemahan rupiah juga berdampak pada sektor riil, seperti perajin tahu dan tempe yang mengimpor kedelai. Purbaya mengakui bahwa kenaikan biaya produksi akibat depresiasi rupiah telah mengurangi keuntungan pedagang. Ia berjanji akan menjaga stabilitas rupiah agar harga bahan pokok lebih terjangkau.
Sementara itu, lembaga think tank Prasasti Center for Policy Studies mengingatkan risiko inflasi yang membesar akibat depresiasi rupiah. Inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen, naik dari 2,42 persen pada April. Koordinasi erat antara otoritas moneter, fiskal, dan sektor keuangan dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan