Media Kampung, Banyuwangi – Cici Arista Devi kembali menorehkan prestasi di bidang literasi. Guru Bahasa Indonesia SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) itu berhasil meraih Juara I Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyah (PDNA) Banyuwangi melalui karya berjudul “Dapur, Gendongan, dan Nasyiah: Seni Shodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan.”
Ajang tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Milad ke-95 Nasyiatul Aisyah dengan mengusung tema “Nyala Kartini Muda: dari Nasyiatul Aisyah untuk Indonesia.” Kompetisi ini menjadi ruang bagi kader Nasyiatul Aisyah untuk menyampaikan gagasan tentang perempuan, pendidikan, dan pengabdian melalui karya tulis.
Di balik kemenangan itu, Cici membawa gagasan sederhana namun dekat dengan kehidupan banyak perempuan. Ia melihat perempuan sering kali dihadapkan pada berbagai peran dalam waktu yang bersamaan, mulai dari mengurus keluarga, mengasuh anak, hingga aktif di organisasi dan masyarakat.
“Saya memilih judul ini karena ingin mengangkat realitas perempuan yang sering kali harus menjalankan banyak peran dalam waktu yang bersamaan. Kata ‘dapur’ melambangkan tanggung jawab domestik, ‘gendongan’ melambangkan peran sebagai ibu dan pengasuh, sedangkan ‘Nasyiah’ merepresentasikan ruang pengabdian, dakwah, dan pemberdayaan perempuan. Ketiganya bukanlah beban yang saling bertentangan, tetapi dapat berjalan berdampingan ketika dijalani dengan niat dan semangat berkemajuan,” ujar Cici.
Menurutnya, frasa “Seni Shodaqoh Waktu” dipilih untuk menggambarkan bentuk pengabdian yang sering luput dari perhatian. Tidak semua sedekah berbentuk materi. Waktu, tenaga, dan pikiran yang diberikan dengan tulus kepada keluarga, organisasi, maupun masyarakat juga merupakan bentuk kontribusi yang bernilai.
Melalui artikel tersebut, Cici ingin mengajak masyarakat melihat perempuan dari sudut pandang yang lebih luas. Ia meyakini perempuan memiliki kemampuan untuk tumbuh, berkarya, dan mengambil peran di ruang publik tanpa meninggalkan tanggung jawab dalam keluarga.
“Saya ingin mengajak kita semua lebih menghargai peran perempuan. Perempuan berasal dari kata empu. Empu adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki keahlian, kebijaksanaan, dan penguasaan yang tinggi dalam suatu bidang sehingga dihormati karena karya, ilmu, maupun keteladanannya. Namun, perempuan sering dinafikan hanya menjadi trinitas fungsi, yakni macak, masak, dan manak. Melalui tulisan ini saya ingin menunjukkan bahwa perempuan mampu menyeimbangkan semua peran itu. Nasyiatul Aisyiyah menjadi ruang tumbuh bagi perempuan untuk belajar, mengabdi, dan berkembang,” tuturnya.
Gagasan yang dituangkan dalam tulisan tersebut sejalan dengan aktivitas Cici sehari-hari. Selain mengajar Bahasa Indonesia, ia dikenal aktif mengembangkan budaya literasi di sekolah. Pada 2024, ia mendirikan Models Jurnalisme (MoJoer) di SMK Muhammadiyah 8 Siliragung sebagai wadah bagi siswa untuk belajar menulis, melakukan peliputan, dan memahami dunia jurnalistik. Baginya, kemampuan menulis tidak cukup diajarkan sebagai teori, tetapi harus dipraktikkan melalui karya nyata.
Atas penghargaan yang diraihnya, Cici mengaku bersyukur. Ia menyebut kemenangan tersebut menjadi penyemangat untuk terus menulis sekaligus menyuarakan isu-isu yang dekat dengan dunia pendidikan, literasi, dan pemberdayaan perempuan.
“Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur dan bahagia. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus menulis dan menyuarakan gagasan yang bermanfaat, khususnya tentang pendidikan, literasi, dan pemberdayaan perempuan. Saya juga ingin membuktikan bahwa perempuan tidak hanya menjadi konco wingking atau pelengkap, tetapi juga bisa berprestasi,” ungkapnya.
Cici berharap keberhasilannya dapat mendorong lebih banyak perempuan untuk berani menulis dan membagikan pengalaman hidupnya. Menurutnya, setiap orang memiliki cerita yang layak didengar dan setiap pengalaman memiliki nilai yang dapat menginspirasi orang lain.
“Semoga ini dapat menginspirasi perempuan lain agar tidak ragu berkarya, karena setiap pengalaman hidup memiliki nilai dan layak untuk dituliskan. Bagi saya, kemenangan ini bukan hanya milik pribadi, tetapi juga milik keluarga, teman-teman di Nasyiatul Aisyiyah Cabang Siliragung, serta keluarga besar SMK Muhammadiyah 8 Siliragung yang selama ini menjadi tempat saya tumbuh dan berkembang,” pungkasnya.
Bagi Cici Arista Devi, kemenangan ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan langkah untuk terus menumbuhkan budaya literasi. Dari ruang kelas hingga dunia kepenulisan, ia percaya bahwa sebuah tulisan tidak hanya merekam gagasan, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan dan menginspirasi lebih banyak orang untuk berkarya.























Tinggalkan Balasan