Perpustakaan Mini di Rutan Medaeng Surabaya: Tempat Warga Binaan Membaca dan Menulis Esai
Media Kampung – Rutan Kelas I Surabaya Medaeng memiliki ruang perpustakaan mini berukuran 3×5 meter yang menjadi tempat warga binaan menghabiskan waktu membaca buku. Ruangan ini terletak tak jauh dari pos penjagaan dan dapat diakses oleh seluruh warga binaan. Saat dikunjungi pada Selasa (23/6/2026), terlihat 12 warga binaan duduk bersila di atas karpet rumput sintetis dan bantal lesehan, larut dalam bacaan yang tersusun di rak dinding. Beberapa di antaranya mencatat dan merangkum isi buku.
Guntur, salah satu warga binaan, tampak asyik membaca buku berjudul Di Balik Seragam yang mengisahkan perjalanan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan RI Agus Andrianto saat menjabat sebagai Wakapolri. Menariknya, Guntur berada di perpustakaan bukan semata karena keinginan membaca, melainkan sedang menjalani sanksi karena lupa mengenakan seragam saat keluar dari blok hunian. Namun ia menganggap sanksi tersebut sebagai berkah tersembunyi. “Ini program baru yang mengganti hukuman bagi warga binaan yang melanggar menjadi lebih humanis sekaligus memperkaya literasi. Kami sangat antusias dan mendukung penuh,” ujarnya.
Program Literasi sebagai Sanksi Humanis
Program literasi ini diinisiasi langsung oleh Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo. Di tengah keterbatasan lahan, ia menghadirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi warga binaan. “Ini berawal dari program pembinaan. Kami berpikir apa yang dapat bermanfaat bagi warga binaan di sini. Dengan memanfaatkan lahan kecil yang dulunya hanya gudang biasa, mudah-mudahan bisa memberikan dampak besar berupa peningkatan ilmu pengetahuan dan literasi warga binaan,” jelas Tristiantoro.
Perpustakaan ini bukan sekadar tempat mengusir kebosanan, melainkan bagian dari sistem pembinaan dan penegakan disiplin yang lebih humanis. Bagi warga binaan yang melanggar tata tertib, selain sanksi yang berlaku, mereka diwajibkan membaca buku dan membuat resume atau esai berdasarkan bacaan. “Nantinya mereka harus membuat rangkuman tentang apa yang dipahami. Kemudian kami tanya dan tes untuk mengetahui sejauh mana mereka memahami isi bacaan tersebut,” tambah Tristiantoro.
Koleksi Buku dan Harapan ke Depan
Saat ini koleksi buku di perpustakaan Rutan Medaeng terus bertambah. Baru-baru ini, pihak rutan menerima bantuan sekitar 300 buku dari Perpustakaan Daerah. Tristiantoro juga membuka kesempatan bagi masyarakat dan komunitas yang ingin menyumbangkan buku. “Kami membuka seluas-luasnya kesempatan untuk donasi buku-buku yang positif, seperti buku literasi, keterampilan, maupun wirausaha. Buku yang bisa memberikan manfaat bagi warga binaan,” ujarnya.
Melalui program Gerakan Membaca ini, pihak rutan berharap masa pembinaan dapat diisi dengan kegiatan produktif dan bermanfaat. “Harapannya program ini bisa memberikan dampak langsung bagi warga binaan. Mudah-mudahan mereka dapat menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan literasi selama menjalani masa pembinaan di Rutan Surabaya,” pungkas Tristiantoro.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan