Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menekan level psikologis Rp18.000. Pada awal Juni 2026, rupiah bergerak di kisaran Rp17.900 hingga menembus Rp18.015 di beberapa waktu, menandai tekanan signifikan terhadap mata uang domestik.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyatakan bahwa penguatan dolar AS secara global dan sentimen risk-off masih mendominasi pasar, sehingga peluang rupiah menembus dan bertahan di atas Rp18.000 semakin besar. Namun, ia menilai skenario tersebut saat ini masih lebih tepat disebut sebagai risiko, terutama jika tekanan eksternal tidak segera mereda.
Pasar kini fokus pada data ekonomi penting dari AS, khususnya laporan ketenagakerjaan yang dapat memberikan indikasi arah kebijakan moneter Negeri Paman Sam. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan diperkirakan akan memperkuat dolar AS dan menambah tekanan pada rupiah. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat kembali.
Penguatan dolar AS terjadi saat investor global mencari aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia. Kondisi ini juga menyebabkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah, berpotensi menaikkan biaya impor dan memengaruhi harga barang di dalam negeri.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh kondisi fiskal yang tidak terkendali. Ia mengungkapkan defisit APBN hingga Mei 2026 hanya sekitar 0,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan diperkirakan akan berakhir di kisaran 1,7%-1,8% PDB pada akhir tahun, menunjukkan anggaran negara dalam kondisi aman.
Selain itu, penerimaan pajak pemerintah terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan lebih dari 22% dibandingkan tahun sebelumnya, serta surplus primer yang kembali positif pada Mei 2026. Hal ini menandakan pendapatan negara di luar pembayaran bunga utang masih mampu menutupi belanja pemerintah.
Di tengah tekanan rupiah, emiten ritel dari Grup Djarum, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), tetap optimistis menargetkan pertumbuhan pendapatan sekitar 10% pada tahun 2026. Strategi bisnis perusahaan akan fokus pada penguatan layanan, ketersediaan produk, dan pengalaman berbelanja pelanggan.
RANC mengalokasikan belanja modal sebesar Rp130 miliar untuk ekspansi, termasuk pembukaan empat gerai baru dan renovasi beberapa gerai lama. Meskipun masih mencatat kerugian pada 2025, perusahaan yakin kerugian akan menyusut berkat efisiensi dan optimalisasi operasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan