Media Kampung – Inflasi Indonesia tetap terkendali meskipun nilai tukar rupiah melemah, menandakan ketangguhan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi bulan April 2026 sebesar 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan, masih berada dalam rentang target 2,5 ± 1 persen.
Inflasi inti pada April 2026 tercatat 2,44 persen tahun‑ke‑tahun, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak goreng yang berhubungan dengan harga kelapa sawit global, namun belum memicu tekanan inflasi yang meluas.
Kelompok pangan volatil mencatat deflasi 0,88 persen secara bulanan, didorong oleh normalisasi permintaan pasca Idulfitri dan hasil panen melimpah di daerah produksi utama.
Komoditas strategis seperti daging ayam, telur, dan cabai kembali stabil, berkat sinergi antara Bank Indonesia, TPIP, dan TPID dalam mengendalikan pasokan regional.
Harga barang yang diatur pemerintah, termasuk BBM nonsubsidi, LPG nonsubsidi, dan tarif angkutan udara, naik 0,69 persen secara bulanan, namun inflasi tahunan pada kelompok ini turun menjadi 1,53 persen, menunjukkan penyesuaian yang terukur.
Pelemahan rupiah dipicu oleh fluktuasi nilai tukar global, harga komoditas, dan ketegangan geopolitik, namun kebijakan moneter Bank Indonesia yang konsisten membantu menahan dampak inflasi impor.
Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan daerah memperkuat program ketahanan pangan, meningkatkan peran TPID, serta mengdigitalisasi pemantauan harga untuk mengantisipasi lonjakan harga daerah.
Ke depan, risiko eksternal seperti volatilitas komoditas, kebijakan moneter negara maju, dan dinamika geopolitik tetap menjadi tantangan bagi stabilitas harga di Indonesia.
Dengan inflasi tetap rendah dan terkontrol pada April 2026, ekonomi Indonesia tidak berjalan di atas tali rapuh, namun tetap memerlukan kewaspadaan dan sinergi kebijakan untuk menjaga kestabilan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan