Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (3/6) berpotensi bergerak volatil dan terancam ambruk akibat lonjakan harga minyak dunia yang mendekati level 100 dolar AS per barel. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasokan energi global, terutama ancaman Iran memblokir Selat Hormuz.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat menguat 11,67 poin atau 0,19 persen ke posisi 6.207,10. Namun, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 justru melemah 0,25 poin atau 0,04 persen ke posisi 619,02.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyatakan, prospek jangka pendek pasar Indonesia masih membaik, namun rentan terhadap tekanan eksternal. Tekanan tersebut meliputi harga minyak tinggi, suku bunga global yang bertahan di level tinggi, dan melemahnya surplus perdagangan.
Konflik AS-Iran mendorong harga minyak dunia meroket mendekati 100 dolar AS per barel, setara Rp1,63 juta. Kondisi ini berpotensi memicu tekanan inflasi global secara meluas. Selain itu, data pasar tenaga kerja AS yang tetap kuat dan inflasi Zona Euro yang meningkat membatasi peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral utama dunia dalam waktu dekat.
Kombinasi harga energi tinggi, inflasi kuat, dan suku bunga tinggi berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini tercermin dari aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai Rp1,39 triliun, menandakan kepercayaan investor global terhadap pasar domestik belum pulih sepenuhnya.
Dari dalam negeri, PMI manufaktur Indonesia kembali masuk zona ekspansi pada Mei 2026, menandakan aktivitas ekonomi domestik mulai membaik. Namun, surplus neraca perdagangan Indonesia turun tajam menjadi hanya 90 juta dolar AS (Rp1,46 triliun) akibat lonjakan impor. Inflasi Mei 2026 juga merangkak naik menjadi 3,08 persen secara tahunan (yoy) karena kenaikan biaya transportasi dan energi.
Sementara itu, bursa saham global bergerak bervariasi. Pasar saham AS Wall Street mencetak rekor tertinggi berkat optimisme sektor kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor. Bursa regional Asia pagi ini mayoritas menguat: indeks Nikkei naik 2,56 persen ke 68.440,50, indeks Shanghai menguat 0,19 persen ke 4.082,82, namun indeks Hang Seng melemah 1,52 persen ke posisi 25.643,00.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan