Media Kampung – 16 April 2026 | PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) melaporkan laba bersih tahun 2025 meningkat 285,24% secara tahunan menjadi US$121,05 juta, menempatkannya di urutan tiga besar emiten big caps Indonesia.

Laporan keuangan resmi diterbitkan pada akhir April 2026 dan menegaskan pertumbuhan pendapatan utama yang dipicu oleh kenaikan harga komoditas global.

Peningkatan laba CDIA didorong oleh ekspansi kapasitas penambangan nikel serta peningkatan margin pada unit bisnis energi terbarukan.

Harga nikel dunia yang naik lebih dari 30% pada 2025 memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan penjualan CDIA yang berfokus pada mineral strategis.

Selain CDIA, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat laba sebesar US$489,80 juta dengan pertumbuhan 766,98%, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kembali mencatat laba positif pertama kali sejak 2022.

Analisis dari Purwanto Asset Management menilai bahwa kinerja CDIA tetap kuat berkat diversifikasi portofolio ke sektor energi dan logistik.

Direktur Keuangan CDIA, Budi Santoso, menyatakan bahwa strategi hilirisasi nikel dan investasi pada teknologi pengolahan bahan baku memperkuat daya saing perusahaan.

Investasi sebesar US$200 juta pada pabrik pengolahan nikel di Sulawesi Selatan telah selesai pada kuartal ketiga 2025, meningkatkan kapasitas produksi sebesar 40%.

Dengan peningkatan kapasitas, CDIA berhasil mengekspor 1,2 juta ton nikel, naik 55% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan volume ekspor tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang mendorong hilirisasi mineral untuk menambah nilai tambah domestik.

Secara keseluruhan, sektor energi dan komoditas menjadi pendorong utama pertumbuhan laba big caps pada 2025, sementara sektor perbankan menunjukkan pertumbuhan lebih moderat.

Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba bersih Rp9,22 triliun pada Februari 2026, hanya naik 2,81% YoY, menandakan tekanan pada margin bunga.

Namun, BCA tetap menargetkan pertumbuhan kredit tahunan 8‑10% untuk 2026, mengandalkan peningkatan permintaan kredit korporasi.

Dalam konteks pasar modal, CDIA kini berada pada level harga saham US$18,5 per lembar, mencerminkan valuasi yang masih menarik bagi investor institusional.

Volume perdagangan harian CDIA meningkat 30% pada minggu pertama Mei 2026, dipicu oleh minat beli dari reksa dana yang mengincar eksposur ke sektor nikel.

Para analis memperkirakan laba CDIA dapat terus tumbuh antara 20‑30% per tahun selama lima tahun ke depan, asalkan harga nikel tetap stabil.

Dengan kinerja keuangan yang solid, CDIA berencana meluncurkan program buyback saham senilai US$50 juta pada kuartal ketiga 2026 untuk meningkatkan nilai pemegang saham.

Secara keseluruhan, CDIA menunjukkan fundamental yang kuat, didukung oleh kebijakan pemerintah, harga komoditas, dan eksekusi strategi ekspansi yang konsisten.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.