Media Kampung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap sejumlah faktor penyebab IHSG tertekan sepanjang Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat mengalami koreksi tajam 11,29% secara bulanan dan 29,14% secara year-to-date, ditutup di level 6.127,38.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa tekanan di pasar saham mencerminkan respons investor terhadap kombinasi berbagai faktor, baik domestik maupun global. Salah satu pemicu utama adalah penyesuaian portofolio atau rebalancing yang dilakukan investor menyusul perubahan komposisi indeks dari penyedia indeks global.
Selain itu, perkembangan indikator ekonomi dan sentimen pasar turut mempengaruhi keputusan investasi. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi China yang melemah dan perekonomian Amerika Serikat yang masih resilien di tengah tekanan inflasi meningkatkan ketidakpastian kebijakan moneter global serta volatilitas aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatnya, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp4,1 triliun secara bulanan. Meskipun IHSG tertekan, OJK menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia masih terjaga. Nilai transaksi dan likuiditas pasar saham tetap tinggi, dengan rata-rata spread bid-ask pada Mei 2026 terjaga di level 1,5% yang menunjukkan likuiditas baik.
Kinerja emiten juga masih positif berdasarkan laporan keuangan kuartal I/2026, di mana perusahaan tercatat masih membukukan laba dan pertumbuhan. OJK mengimbau investor untuk tetap rasional, mengedepankan analisis yang memadai, dan memanfaatkan informasi valid dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan