Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2026, dengan anjlok hampir 30 persen dari level 8.748 di awal tahun menjadi 6.127 pada akhir Mei. Tekanan pasar dan aksi jual investor asing menjadi faktor utama yang membebani pergerakan IHSG selama periode 25 hingga 29 Mei 2026.

Sepanjang pekan tersebut, IHSG mengalami koreksi sebesar 0,56 persen dari posisi 6.162 menjadi 6.127,3. Meskipun begitu, nilai kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) justru mengalami peningkatan sebesar 0,88 persen menjadi Rp 10.729 triliun, naik sekitar Rp 94 triliun dibanding pekan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa meski indeks melemah, nilai aset emiten beberapa perusahaan mencatatkan pertumbuhan.

Investor asing mencatatkan aksi jual bersih yang signifikan sebesar Rp 8,519 triliun pada akhir pekan dan mencapai total Rp 53,971 triliun sepanjang tahun berjalan 2026. Penurunan aktivitas pasar juga tercermin dari menurunnya frekuensi transaksi harian sebesar 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali transaksi serta volume perdagangan harian yang menyusut 15,60 persen menjadi 30,95 miliar lembar saham.

Di sisi lain, nilai transaksi harian justru meningkat tajam sebesar 30,37 persen menjadi Rp 28,38 triliun, menandakan adanya transaksi dengan nilai besar meskipun volume dan frekuensi perdagangan menurun. Kondisi ini mencerminkan selektivitas investor dalam bertransaksi di tengah ketidakpastian pasar.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksono, menyebutkan bahwa koreksi IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti hari perdagangan yang pendek, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, rebalancing indeks oleh MSCI, serta perkembangan negosiasi antara AS dan Iran yang masih menjadi perhatian pasar global.

Mayoritas sektor saham mengalami tekanan sepanjang pekan terakhir. Sektor energi turun 1,17 persen, industri melemah 2,3 persen, consumer non-siklikal turun 2,45 persen, dan sektor kesehatan turun 2,2 persen. Sektor keuangan dan properti juga tertekan masing-masing 1,16 persen dan 1,96 persen. Sektor teknologi turun 0,87 persen, sedangkan infrastruktur bahkan anjlok 3,87 persen.

Meski begitu, beberapa sektor masih menunjukkan kinerja positif dan menjadi perhatian investor. Sektor bahan dasar (basic materials) naik 0,79 persen, sektor consumer siklikal sedikit meningkat 0,02 persen, dan sektor transportasi serta logistik mencatat lonjakan signifikan sebesar 4,69 persen. Hal ini menunjukkan adanya peluang di sektor-sektor tersebut meskipun pasar secara umum sedang lesu.

Dalam upaya meningkatkan kepercayaan pasar modal, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyelenggarakan dialog strategis pada 26 Mei 2026 mengenai Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK). Inisiatif ini bertujuan mendorong perusahaan tercatat untuk mengadopsi standar pengungkapan yang selaras dengan IFRS guna meningkatkan transparansi dan daya saing pasar modal Indonesia.

Untuk menghadapi kondisi pasar yang masih penuh tantangan, analis merekomendasikan investor untuk mencermati saham-saham tertentu seperti PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang dinilai memiliki potensi rebound dalam jangka menengah.

Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji level support di kisaran 5.899 hingga 5.996,5 dengan resistance pada level 6.318 hingga 6.459. Investor disarankan waspada terhadap volatilitas yang dapat terjadi akibat sentimen global maupun domestik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.