Media Kampung – Sepanjang tahun 2026 hingga awal Juni, investor asing telah mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 61,36 triliun di pasar saham Indonesia. Nilai ini melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan net sell sepanjang 2025 yang hanya Rp 17,34 triliun.
Tekanan jual asing yang terus berlanjut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk. Dalam sepekan perdagangan 2–5 Juni 2026, IHSG terkoreksi 8,69 persen ke level 5.594, dari posisi 6.127 pada pekan sebelumnya. Akibatnya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) susut 8,59 persen menjadi Rp 9.807 triliun, dari sebelumnya Rp 10.729 triliun.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, menyatakan bahwa rata-rata nilai transaksi harian juga menurun 5,71 persen menjadi Rp 26,97 triliun. Meski demikian, frekuensi dan volume transaksi harian justru meningkat, menandakan kehati-hatian investor di tengah volatilitas.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa koreksi IHSG dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk penyesuaian portofolio investor terkait perubahan komposisi indeks global. Sepanjang Januari–Mei 2026, net sell asing mencapai Rp 53,97 triliun, dengan Rp 4,1 triliun terjadi pada Mei saja.
Pakar ekonomi Ferry Latuhihin menilai arus keluar dana asing dipicu kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah yang kurang ramah investor, seperti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dinilai berpotensi menimbulkan risiko baru bagi eksportir komoditas.
Meski IHSG menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk di dunia—turun lebih dari 34 persen year-to-date—OJK menegaskan fundamental pasar modal domestik masih kuat. Likuiditas tetap terjaga dengan rata-rata bid-ask spread di level rendah 1,5 persen pada Mei 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan