Media Kampung – Investor asing melakukan aksi jual besar-besaran di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan sesi pertama Rabu, 3 Juni 2026, dengan nilai penarikan dana mencapai Rp525,3 miliar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi yang paling banyak dilepas, dengan nilai net sell mencapai Rp265,3 miliar dan volume penjualan sebanyak 46,6 juta lembar saham.

Akibat tekanan jual yang signifikan, harga saham BBCA turun 3 persen ke level Rp5.650 per saham, melanjutkan tren penurunan selama beberapa waktu terakhir. Dalam sepekan terakhir, saham ini terkoreksi 5,4 persen dan dalam satu bulan turun 3,4 persen, sementara sejak awal tahun saham BBCA telah merosot sekitar 30 persen.

Selain BBCA, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga menjadi target penjualan asing dengan nilai net sell sebesar Rp257,53 miliar. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut mengalami tekanan jual asing sebesar Rp198,73 miliar. Saham-saham lain seperti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga tercatat mendapat tekanan jual asing yang cukup besar.

Meski demikian, sejumlah saham masih menarik minat beli investor asing. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memimpin net buy dengan pembelian saham senilai Rp165,59 miliar, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari tersebut melemah tajam hingga 4,94% atau 305,94 poin ke level 5.889,48, dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini menimbulkan suasana bearish dan diperkirakan akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Semua sektor di BEI ditutup di zona merah, dengan sektor industri dasar mengalami koreksi terbesar sebesar 10,25%. Saham-saham besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga mengalami penurunan signifikan, masing-masing turun antara 2,6% hingga hampir 4%. Penurunan ini diperparah oleh tekanan jual pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan dalam indeks.

Di tengah tekanan pasar saham dan arus keluar dana asing, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) melakukan langkah strategis dengan menjual 100% saham anak usahanya, PT Administrasi Medika (AdMedika), kepada perusahaan kesehatan asal Singapura, Fullerton Health. Transaksi ini dilakukan untuk memperkuat pengelolaan portofolio investasi Telkom Group dan mendukung pengembangan bisnis inti perusahaan.

Direktur Utama TelkomMetra, Pramasaleh Haryo Utomo, memastikan transaksi divestasi tersebut telah sesuai regulasi dan menghasilkan valuasi yang menguntungkan. Setelah akuisisi, AdMedika dan TelkoMedika akan tetap beroperasi dengan merek dan manajemen yang sama untuk menjaga kepercayaan pasien dan mitra.

AdMedika melayani lebih dari 323 klien dengan anggota mencapai 4,1 juta, didukung oleh jaringan fasilitas kesehatan nasional dan internasional yang luas serta lebih dari 1.200 karyawan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.