Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, dengan ditutup naik 4,12% atau 247,31 poin ke level 6.254,96. Lonjakan ini didorong oleh aksi beli masif di berbagai sektor, terutama saham-saham konglomerasi seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang mencatatkan kenaikan tertinggi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham stagnan. Volume transaksi mencapai 54,53 miliar saham dengan nilai transaksi Rp30,11 triliun dan frekuensi 3,25 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat Rp10.927 triliun.

Saham BRMS menjadi salah satu top gainers dengan melonjak 24,53% ke level Rp660 per saham. Kenaikan ini turut mendorong indeks Bisnis-27 yang ditutup di zona hijau pada level 436,25. Emiten Grup Bakrie lainnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), juga menguat 10,19% ke Rp173, sementara PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) naik 12,12% ke Rp370.

Head of Research and Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai penguatan IHSG saat ini lebih disebabkan oleh technical rebound, namun didukung fundamental yang membaik. Ia menyebut kebijakan moneter Bank Indonesia yang lebih tegas dan deeskalasi ketegangan geopolitik membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan yield obligasi. Rupiah tercatat menguat ke level Rp17.665 per dolar AS, menjauh dari level psikologis Rp18.000.

Sepuluh dari sebelas sektor di BEI ditutup hijau, dengan sektor industri dasar naik 7,26%, sektor keuangan naik 5,23%, dan sektor industri naik 4,51%. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi yang paling banyak ditransaksikan dengan volume 133,36 juta saham.

Di sisi lain, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 9,82% ke Rp3.130, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 7,75% ke Rp5.075, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) melesat 13,51% ke Rp2.100. Sementara itu, saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) justru melemah 3,67% ke Rp1.180.

Menurut Rully, keberlanjutan penguatan IHSG akan bergantung pada pergerakan rupiah dan yield SBN. Jika rupiah mampu bertahan menguat dan yield SBN tenor 10 tahun turun dari level puncak di atas 7,3%, premi risiko Indonesia akan menurun dan membuka ruang bagi masuknya kembali aliran dana asing ke pasar saham dan obligasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.