Media Kampung – Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026 memicu antrean panjang di SPBU Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Antrean kendaraan di jalur Pertalite mencapai 500 meter karena banyak pengendara beralih dari Pertamax ke BBM bersubsidi tersebut. Fenomena ini menyoroti urgensi kebijakan subsidi tepat yang tengah didorong pemerintah.
Di SPBU Jalan Diponegoro, Pangkalan Bun, puluhan kendaraan roda dua dan empat memadati jalur Pertalite sejak pagi. Salah seorang sopir travel, Bintoro, mengaku terpaksa mengantre karena tarif perjalanan ke Kalimantan Barat masih tetap Rp500 ribu. Sementara itu, harga Pertamax naik sekitar Rp3.950 dari sebelumnya Rp12.300 per liter akibat fluktuasi harga minyak dunia dan pelemahan rupiah.
Pemerintah melalui Dewan Ekonomi Nasional berencana mengubah pola subsidi dari berbasis barang menjadi berbasis penerima manfaat. Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan bahwa subsidi akan langsung diberikan kepada penerima, misalnya melalui cash transfer. Langkah ini didukung penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk membangun sistem data tunggal nasional guna memastikan bansos dan subsidi tepat sasaran.
Para ekonom mengingatkan bahwa kenaikan BBM nonsubsidi dapat memicu inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Data menunjukkan sekitar 10,6 juta orang dari kelas menengah turun kasta antara 2019 dan 2025. Jika subsidi tidak tepat, beban masyarakat semakin berat. Oleh karena itu, transformasi subsidi menjadi program yang lebih terarah dinilai mendesak.
Hingga berita ini diturunkan, antrean Pertalite di Pangkalan Bun masih berlangsung. Pemerintah berharap sistem data tunggal berbasis AI dapat memperbaiki akurasi penyaluran subsidi dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan