Media Kampung – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Menurut data Bloomberg, rupiah sempat berada di level Rp 17.956,50 per dolar AS pada pukul 14.00 WIB. Pelemahan ini mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil langkah stabilisasi dengan membatasi pembelian valuta asing (valas) tanpa underlying.
BI memberlakukan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying sebesar USD 25.000 per pelaku per bulan, efektif mulai 2 Juni 2026. Kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan terhadap rupiah di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik. Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan instrumen kebijakan dan memperluas penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) dalam transaksi perdagangan dan investasi lintas negara. Skema LCT bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan saat ini telah diterapkan dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik. Secara eksternal, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman. Dari dalam negeri, tekanan berasal dari melemahnya surplus perdagangan. Pada April 2026, surplus neraca perdagangan Indonesia hanya mencapai USD 0,09 miliar, menurun tajam dari USD 3,32 miliar pada Maret. Secara kumulatif, surplus Januari-April 2026 menyusut menjadi USD 5,64 miliar dari USD 11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, inflasi Mei 2026 naik menjadi 3,08 persen dari 2,42 persen pada April, dipicu kenaikan biaya input impor, energi, transportasi, dan pangan. Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuaibi menambahkan, kenaikan harga minyak mentah global yang meningkatkan biaya impor energi Indonesia serta potensi suku bunga The Fed yang tetap tinggi turut menjadi faktor penekan.
Namun, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat peluang stabilisasi bertahap ke kisaran Rp 17.600-Rp 17.750 per dolar AS jika harga minyak turun, arus modal asing kembali masuk, dan pemerintah memberikan sinyal fiskal yang meyakinkan. Sebaliknya, jika harga minyak kembali naik dan sentimen risiko global memburuk, rupiah berpotensi bertahan di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan