Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah signifikan sebesar 2,53% pada sesi pertama perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, menurun ke level 5.692. Pelemahan ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham yang merosot dan nilai transaksi harian yang mencapai Rp 21,1 triliun.
IHSG mengalami koreksi tajam setelah tiga hari berturut-turut melemah, dengan penurunan year to date mencapai 34,17%. Indeks sempat bergerak di zona hijau dengan level tertinggi 5.860,67, namun tekanan jual yang kuat akhirnya membawa IHSG ke posisi terendah 5.673,92 saat sesi pertama.
Transaksi crossing jumbo tercatat pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai Rp 8,8 triliun pada harga Rp 962 per saham. Saham ini justru mengalami kenaikan 13,45% ke posisi Rp 1.560 di sesi yang sama. Sementara itu, saham-saham di sektor tambang menunjukkan tren positif, seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) naik 5,62%, PT Timah Tbk (TINS) naik 4,25%, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) melonjak 5,24%.
Namun, tekanan terbesar datang dari sektor keuangan khususnya saham bank besar yang menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot tajam 5,53% ke Rp 5.125 per saham, menyentuh level terendah dalam lima tahun terakhir. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) turun 4,09% ke Rp 3.280, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 2,52% ke Rp 3.870, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,14% ke Rp 2.750 per saham.
Volume perdagangan saham sepanjang sesi pertama mencapai 25,25 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 1,32 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 588 saham melemah, 111 saham menguat, dan 109 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 10.038 triliun.
Pengamat pasar modal dari Universitas Airlangga, Gagas Gayuh Aji, menyoroti bahwa penurunan IHSG bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi makro, melainkan juga perilaku investor yang didominasi oleh trader jangka pendek dan fenomena FOMO (fear of missing out). Kondisi ini mencerminkan krisis kepercayaan diri di pasar modal Indonesia, diperparah oleh sentimen negatif dari lembaga pemeringkat internasional dan aksi investor asing yang menarik dana secara signifikan.
Mayoritas sektor saham tercatat melemah, kecuali sektor basic yang justru mencatat kenaikan 1,01%. Sektor lainnya seperti energi, industri, konsumer, kesehatan, keuangan, properti, teknologi, infrastruktur, dan transportasi semuanya mengalami penurunan signifikan, dengan sektor transportasi merosot paling dalam sebesar 4,44%.
Secara regional, bursa Asia juga mengalami pelemahan serupa, dengan indeks Nikkei Jepang turun 1,47% dan Hang Seng Hong Kong turun 0,81%, sedangkan Shanghai Composite berhasil naik tipis 0,43%.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan