Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah dan ditutup pada level 5.839,78 setelah turun 1,70 persen atau 101,28 poin pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Penurunan ini terjadi di tengah tekanan jual yang berlanjut dari hari sebelumnya akibat berbagai rumor pasar domestik dan ketidakpastian yang tinggi.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat terjun hingga menyentuh level terendah harian di 5.644 sebelum berhasil memangkas sebagian kerugian menjelang penutupan. Penurunan indeks ini juga dipengaruhi oleh melemahnya nilai tukar rupiah yang ditutup turun sekitar 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS, serta kondisi pasar saham kawasan Asia yang mayoritas juga melemah akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Dari sisi teknikal, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) menunjukkan pelebaran histogram negatif, sementara pola death cross pada Stochastic RSI mengindikasikan tekanan jual yang masih cukup kuat. Analis memperkirakan IHSG akan tetap bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dan berpotensi menguji area support di kisaran 5.700 hingga 5.800.
Penurunan IHSG juga tercermin dari memburuknya kinerja sejumlah saham big caps, seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang terkoreksi 14,86 persen, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) turun 4,80 persen, dan PT Astra International Tbk. (ASII) melemah 4,34 persen. Selain itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BBNI), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) juga mengalami penurunan signifikan.
Meskipun demikian, Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap optimistis terhadap fundamental pasar modal nasional. Pelaksana Tugas Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa Indonesia diperkirakan akan tetap masuk dalam kategori emerging market pada indeks MSCI. Ia juga membantah kabar yang beredar bahwa Indonesia akan turun ke kategori frontier market, menilai informasi tersebut tidak akurat dan mengimbau investor untuk melakukan pengecekan dan verifikasi informasi secara cermat sebelum mengambil keputusan investasi.
Jeffrey menyatakan bahwa berbagai reformasi pasar modal yang telah dilakukan bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan investor, baik domestik maupun global. Upaya ini termasuk peningkatan granularitas data dan penyediaan informasi terkait konsentrasi kepemilikan saham, yang diharapkan dapat memulihkan sentimen pasar di tengah tekanan yang sedang berlangsung.
Perdagangan hari ini juga mencatatkan volume transaksi sebesar 35,91 miliar lembar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp25,32 triliun. Dari total saham yang diperdagangkan, 106 saham menguat, 623 saham melemah, dan 85 saham stagnan, menunjukkan dominasi tekanan jual di pasar.
Secara keseluruhan, meskipun terdapat tekanan signifikan dan fluktuasi dalam perdagangan, BEI optimis bahwa Indonesia tetap memiliki fundamental pasar modal yang solid dan prospek untuk tetap di kategori emerging market pada indeks global MSCI.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan