Media Kampung – Harga emas dunia mengalami penurunan selama beberapa pekan terakhir, dipengaruhi oleh dolar AS yang menguat dan kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve. Kondisi ini berdampak pada pergerakan saham emiten tambang emas di Indonesia, termasuk PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA).

Pada perdagangan Kamis (18/6/2026), harga emas dunia sempat menguat setelah adanya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, namun secara umum harga emas dunia turun 0,6% menjadi US$4.184,33 per ons pada Sabtu (20/6/2026). Tekanan terhadap harga emas juga datang dari sinyal kenaikan suku bunga AS yang membuat emas kehilangan daya tarik karena tidak memberikan bunga.

Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Hartadinata Abadi Tbk terkoreksi sebesar 1,33% pada sesi perdagangan 18 Juni 2026, mencapai Rp2.220 per saham. Penurunan ini sejalan dengan tren pelemahan harga emas dunia sebesar 23% dari rekor tertinggi di Januari 2026. Meski demikian, pergerakan saham emiten emas tidak seragam, dengan beberapa saham seperti PT Merdeka Gold Resources Tbk justru mengalami penguatan karena rencana penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Hong Kong yang mendapat dukungan institusi global.

Dari sisi harga emas fisik di pasar domestik, harga emas 24 karat di PT Hartadinata Abadi juga mengikuti tren penurunan. Pada Kamis, 18 Juni 2026, harga emas Antam turun menjadi Rp2.703.000 per gram, turun Rp30.000 dari harga sebelumnya. Harga buyback emas Antam juga mengalami penurunan signifikan. Harga emas Antam sendiri pernah mencapai rekor tertinggi Rp3.168.000 per gram pada Januari 2026.

Penurunan harga emas ini dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, kebijakan moneter yang ketat dari Federal Reserve di bawah kepemimpinan Kevin Warsh semakin menekan harga emas di pasar global.

Secara keseluruhan, PT Hartadinata Abadi Tbk menghadapi tantangan dari dinamika pasar emas global yang bergejolak. Investor dan pelaku pasar diharapkan untuk terus memantau perkembangan harga emas dan kebijakan moneter internasional yang dapat mempengaruhi kinerja saham dan harga produk emas perusahaan ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.