Media KampungPasar saham Indonesia tengah menanti dua agenda penting dari MSCI yang akan diumumkan pada pekan ini, yakni hasil Market Accessibility Review dan Market Classification Review. Keputusan ini akan menentukan apakah Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market atau berisiko diturunkan. Di tengah ketidakpastian tersebut, sejumlah saham berkapitalisasi besar dinilai menarik untuk dicermati oleh investor.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menyebutkan bahwa saham-saham sektor perbankan seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Mandiri (BMRI) menjadi perhatian utama. Ketiganya memiliki likuiditas tinggi, fundamental kuat, dan kerap menjadi sasaran dana asing saat sentimen terhadap Indonesia membaik. Jika status emerging market dipertahankan, investor global diperkirakan akan nyaman mempertahankan atau menambah eksposur pada saham-saham tersebut.

Selain perbankan, Telkom Indonesia (TLKM) juga layak diperhatikan karena kapitalisasi besar dan karakter defensifnya. Sementara itu, Astra International (ASII) dinilai sebagai proksi pertumbuhan kelas menengah dan berpotensi mendapat premi valuasi lebih tinggi jika persepsi risiko Indonesia membaik.

Namun, Hendra mengingatkan bahwa potensi kenaikan harga saham tidak bisa dihitung secara sederhana hanya dari hasil pengumuman MSCI. Besarnya kenaikan sangat tergantung pada arus dana asing yang masuk dibandingkan likuiditas masing-masing saham. Oleh karena itu, investor disarankan untuk melihat urutan sensitivitas saham, bukan angka pasti kenaikan.

Sementara itu, PT Blue Bird Tbk (BIRD) baru saja mengumumkan pembagian dividen tunai sebesar Rp166 per saham dari laba bersih 2025. Keputusan ini diambil dalam RUPST pada 18 Juni 2026. Dividen tersebut setara dengan 65,3% dari laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk. Blue Bird mencatat pendapatan bersih Rp5,7 triliun pada 2025, tumbuh 13% year-on-year, dengan EBITDA Rp1,4 triliun dan laba tahun berjalan Rp643 miliar.

Di sisi lain, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) tengah bersiap melakukan penawaran tender wajib (MTO) setelah perubahan pengendali. Pacific Universal Investments Pte. Ltd., pengendali baru, akan membeli saham publik dengan harga Rp1.550 per saham, dengan total dana maksimal mencapai Rp12,6 triliun. Pengendali baru menegaskan tidak berencana melikuidasi perusahaan, mengubah kebijakan dividen, atau melakukan delisting.

IHSG pada 18 Juni 2026 ditutup melemah 48,40 poin atau 0,78% ke posisi 6.172,34, seiring investor bersikap hati-hati menjelang pengumuman MSCI dan rebalancing FTSE Russell. Bank Indonesia juga menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada hari yang sama untuk mendukung stabilisasi rupiah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.