Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan saat membuka perdagangan sesi pertama pada Selasa, 26 Mei 2026, dengan posisi di level 6201,8 atau turun 4,545 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.

Penurunan ini menandai koreksi pasar awal yang diperkirakan akan berlanjut dalam rentang pergerakan antara 6.060 hingga 6.170 sebagai level support, sementara level resistansi diperkirakan berada pada kisaran 6.250 hingga 6.270, menurut Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman.

Meski IHSG sempat ditutup menguat pada hari Senin, 25 Mei 2026, pasar mencatat adanya aksi jual bersih asing mencapai Rp2,09 triliun. Saham-saham seperti AMMN, BMRI, AMRT, ANTM, dan TPIA menjadi yang paling banyak dijual oleh investor asing, menunjukkan adanya tekanan jual yang mempengaruhi sentimen pasar.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat tidak beroperasi pada hari tersebut karena memperingati Memorial Day, sedangkan pasar saham di Asia justru menunjukkan penguatan. Indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak hingga 2,87 persen, Taiex Taiwan naik 3,26 persen, dan CSI 300 Tiongkok meningkat 1,58 persen. Bursa ASX 200 di Australia juga mengalami kenaikan, meskipun indeks FTSE Malaysia turun tipis.

Fanny menambahkan bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Laporan dari Reuters menyebutkan bahwa perwakilan dari Qatar telah melakukan perjalanan ke Teheran dengan koordinasi AS untuk membantu mencapai kesepakatan damai, yang berpotensi membuka kembali jalur perdagangan minyak utama dunia di Selat Hormuz.

Di sisi lain, harga minyak dunia mencatat kenaikan, dengan harga minyak Brent naik 0,9 persen menjadi USD103,54 per barel, dan harga minyak WTI naik sekitar 0,3 persen ke level USD96,60 per barel. Kenaikan harga minyak ini juga menjadi faktor yang turut memengaruhi dinamika pasar saham global dan domestik.

Negosiasi antara AS dan Iran masih terus berlangsung dan beberapa poin krusial, seperti pengayaan uranium Iran serta pembukaan blokir dana milik Teheran, masih membutuhkan penyelesaian yang dapat memakan waktu beberapa hari ke depan.

Perkembangan ini menjadi faktor penting yang harus diperhatikan oleh pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi arah IHSG dan pasar saham global dalam waktu dekat.

Dengan kondisi saat ini, IHSG diperkirakan tetap akan bergerak dalam rentang yang telah diantisipasi sambil menunggu kepastian dari perkembangan negosiasi internasional tersebut.

Secara keseluruhan, penurunan IHSG pada sesi pertama perdagangan menjadi refleksi dari sentimen hati-hati investor di tengah ketidakpastian geopolitik dan aksi jual asing yang masih berlangsung.

Para investor disarankan untuk terus memantau perkembangan negosiasi damai AS-Iran serta dinamika harga minyak dunia sebagai indikator utama yang dapat menentukan arah pasar saham Indonesia dalam waktu dekat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.