Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan dan menutup perdagangan Selasa (12/5/2026) pada posisi 6.858,90. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh angka Rp17.500 serta antisipasi pasar terhadap hasil rebalancing saham dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
IHSG bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini. Pada sesi pertama, indeks sempat jatuh cukup dalam ke level 6.807, dengan koreksi mencapai 1,43 persen. Dalam sesi penutupan, indeks berhasil menguat sedikit dari posisi terendah namun tetap turun 0,68 persen dibandingkan hari sebelumnya. Data perdagangan menunjukkan frekuensi transaksi mencapai 2,54 juta kali dengan volume saham yang berpindah tangan sebanyak 32,98 miliar lembar senilai Rp16,29 triliun.
Mayoritas sektor saham mengalami pelemahan pada hari ini. Sektor kesehatan tertekan paling dalam dengan penurunan sebesar 3,52 persen, diikuti sektor industri yang merosot 3,20 persen serta sektor infrastruktur yang turun 1,49 persen. Di sisi lain, sektor barang baku menjadi sektor yang menguat paling signifikan dengan kenaikan 1,85 persen, disusul sektor transportasi dan logistik yang naik 1,59 persen serta sektor keuangan yang mencatatkan peningkatan tipis sebesar 0,31 persen.
Sepanjang perdagangan, tercatat 207 saham berhasil menguat, sementara 463 saham melemah dan 151 saham lainnya stagnan. Emiten yang mencatat kenaikan paling tajam adalah NZIA dengan lonjakan 30,82 persen, kemudian diikuti oleh CCSI dan ELPI yang masing-masing naik 25 persen dan 24,90 persen. Sebaliknya, saham MORA menjadi yang tertekan paling dalam dengan penurunan 15 persen, diikuti ASPR dan IRRA yang masing-masing anjlok hampir 15 persen.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, memastikan tidak adanya penambahan saham baru asal Indonesia dalam rebalancing MSCI kali ini, bahkan ada kemungkinan beberapa saham Indonesia dikeluarkan dari indeks tersebut. Ia menyatakan bahwa dampak penyesuaian ini akan menekan IHSG dalam jangka pendek, namun diharapkan tidak berlangsung lama dan menjadi bagian dari penyesuaian pasar yang sehat.
Selain tekanan dari rebalancing MSCI, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang mencapai 6,72 persen, tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan yield ini dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan kekhawatiran defisit anggaran belanja pemerintah. Pergerakan yield serupa juga terjadi di Amerika Serikat dan Inggris, menambah sentimen negatif di pasar keuangan domestik.
Secara teknikal, analis pasar memproyeksikan IHSG berpotensi menguji level support di kisaran 6.700 hingga 6.750. Jika mampu bertahan di atas level ini, indeks berpeluang mengalami rebound menuju angka 6.900. Namun, sentimen negatif dari pasar global dan faktor domestik perlu terus diwaspadai oleh investor.
Pergerakan Bursa saham Asia pada hari yang sama juga menunjukkan hasil yang bervariasi. Indeks Nikkei menguat 0,52 persen, Straits Times naik tipis 0,07 persen, sementara indeks Hang Seng dan Shanghai masing-masing melemah 0,22 persen dan 0,25 persen.
Dengan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian dan volatilitas tinggi, investor diharapkan tetap waspada dalam mengambil keputusan investasi. Pengumuman resmi hasil rebalancing MSCI akan dirilis pada Rabu pagi waktu Indonesia Barat, yang dapat menjadi katalis baru bagi pergerakan IHSG dalam beberapa minggu ke depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan