Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah dan menembus level Rp17.500 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang memicu kekhawatiran pasar dan mendorong dolar AS menguat.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah sekitar 0,40 persen menjadi Rp17.483 per dolar AS. Data dari beberapa bank besar menunjukkan harga jual dolar AS sudah berada di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.700. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mematok kurs jual di level Rp17.660 untuk layanan TT counter dan bank notes, sementara HSBC Indonesia mencatat harga jual tertinggi mencapai Rp17.700 untuk transfer dan Rp17.775 untuk transaksi tunai.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengemukakan bahwa penguatan dolar AS terutama dipicu oleh ketegangan yang terus meningkat antara AS dan Iran. Penolakan proposal perdamaian terbaru dari Presiden AS Donald Trump terhadap Iran memperburuk prospek deeskalasi konflik di kawasan Teluk, sehingga meningkatkan risiko geopolitik di mata investor.
“Komentar tersebut menambah ketidakpastian pasar, terutama fokus tertuju pada Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup sejak awal konflik,” ujar Ibrahim pada Senin (11/5/2026). Kondisi ini mendorong permintaan dolar AS sebagai safe haven sehingga rupiah mengalami tekanan.
Dari sisi domestik, data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menunjukkan sedikit peningkatan ke level 123,0 dari sebelumnya 122,9 pada Maret 2026, belum mampu meredam pelemahan rupiah. Kenaikan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) menjadi 116,5 mencerminkan optimisme masyarakat terhadap lapangan kerja dan daya beli, namun tekanan eksternal masih dominan memengaruhi nilai tukar.
Beberapa bank lain juga menetapkan harga jual dolar AS cukup tinggi. Bank Rakyat Indonesia (BRI) mematok harga jual di kisaran Rp17.600, Bank Mandiri di sekitar Rp17.560, dan Bank Negara Indonesia (BNI) sekitar Rp17.520. Di sisi lain, ada beberapa bank yang masih menawarkan harga jual di bawah Rp17.500 seperti Permata Bank yang menetapkan Rp17.450.
Indeks dolar AS pun mengalami penguatan sebesar 0,16 persen ke level 98,11 pada perdagangan pagi ini, menunjukkan tren penguatan mata uang Amerika yang turut menekan rupiah. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah ini juga dipengaruhi oleh meredupnya harapan perdamaian antara AS dan Iran.
Dengan kondisi geopolitik yang masih belum stabil dan tekanan eksternal yang kuat, rupiah diprediksi akan terus bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.410 hingga Rp17.460 per dolar AS sepanjang hari ini. Pasar tetap waspada terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas nilai tukar dan perekonomian nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan