Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 3,4 persen pada Jumat 24 April 2026, dipicu oleh kekhawatiran nilai tukar rupiah yang terus melemah.
Penutupan sesi I mencatat IHSG berada di level 7.152,85, sementara kurs rupiah tercatat Rp17.284 per dolar, hanya naik tipis 0,01 persen.
Liza Camelia, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan dolar AS, melainkan dipengaruhi oleh faktor domestik seperti beban fiskal impor minyak mentah.
Ia menambahkan bahwa kebijakan pemerintah dan otoritas moneter perlu dievaluasi secara menyeluruh untuk mengurangi volatilitas nilai tukar.
Harga minyak mentah global menembus US$100 per barel, meningkatkan beban fiskal Indonesia yang tengah menyerap biaya subsidi BBM dan program makan bergizi gratis.
Gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz memperparah situasi, menambah risiko inflasi dan memperlebar defisit anggaran.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada 4,75 persen, namun Liza menilai langkah tersebut belum cukup untuk menstabilkan rupiah dan meminta intervensi likuiditas dolar yang lebih agresif.
Analisis Phintraco Sekuritas mencatat bahwa IHSG telah menembus support penting di 7.500 poin, didukung volume penjualan yang kuat, dan indikator teknikal menunjukkan potensi death cross.
Stochastic RSI berada di area pivot menurun, sementara MACD positif menyempit, menandakan kemungkinan lanjutan penurunan indeks.
Herald van der Linde, Chief Asia Equity Strategist HSBC, menegaskan target tahunan IHSG 7.500 pada akhir 2026, meski tekanan jangka pendek tetap signifikan.
Ia menyoroti bahwa arus keluar investor asing, fluktuasi rupiah, dan ketidakpastian MSCI menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi alokasi dana global ke pasar Indonesia.
HSBC juga mengingatkan bahwa keputusan penundaan rebalancing MSCI menambah keraguan investor, sehingga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kunci untuk menarik portofolio asing.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan kapitalisasi pasar turun menjadi Rp12.805 triliun, dengan 90 saham menguat, 642 melemah, dan 82 stagnan pada penutupan hari itu.
Volume perdagangan mencapai 4,88 miliar saham senilai Rp2,52 triliun, mencerminkan aktivitas pasar yang masih cukup tinggi meski dalam kondisi bearish.
Secara makro, M2 tumbuh 9,7 persen secara tahunan pada Maret 2026, didorong peningkatan M1 sebesar 14,4 persen, menandakan likuiditas domestik yang meluas.
Namun, pertumbuhan uang beredar tidak cukup mengimbangi tekanan eksternal yang datang dari kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Investor domestik dan institusi diminta untuk memantau kebijakan fiskal, khususnya alokasi dana pada entitas seperti Danantara, guna memastikan efektivitas investasi publik.
Dengan kondisi pasar yang masih tertekan, analis memproyeksikan IHSG dapat menguji level support kuat di 7.300 poin dalam minggu mendatang.
Jika rupiah kembali melemah melewati Rp17.300 per dolar, risiko penurunan lebih lanjut pada indeks saham akan semakin tinggi.
Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia berada pada fase koreksi tajam yang dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal, menuntut kebijakan yang lebih terkoordinasi antara otoritas moneter dan fiskal.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Leave a Reply