Media Kampung – Para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) berhasil mengembangkan sensor suhu tubuh yang dapat ditelan dan berukuran sangat kecil, hanya sebesar buah berry. Sensor ini mampu mengirimkan data suhu tubuh secara kontinu langsung dari saluran pencernaan pasien ke perangkat penerima di luar tubuh. Inovasi ini diyakini dapat menjadi alternatif yang lebih akurat dan nyaman dibandingkan termometer oral atau rektal yang selama ini digunakan.

Sensor yang dinamakan sebagai ingestible thermometer ini memiliki dimensi tinggi 4 milimeter dan diameter 6 milimeter, menjadikannya sensor suhu yang bisa ditelan terkecil yang pernah dikembangkan. Ukuran yang sangat kecil ini dirancang untuk mengurangi risiko penyumbatan saluran pencernaan dan memudahkan pasien menelannya. Tim MIT mempublikasikan riset mereka di jurnal Nature Electronics pada 16 Juni 2026.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Sensor ini terdiri dari tiga komponen utama: sirkuit pengindera suhu, antena untuk mengirim data, dan baterai. Sirkuit yang dirancang khusus mampu mendeteksi suhu dengan akurasi 0,01 derajat Celsius dan hanya membutuhkan daya sekitar 10 nanowatts. Baterai yang digunakan adalah baterai koin 1,55 volt dengan diameter 4,8 milimeter. Untuk menghemat energi, sensor menggunakan teknik komunikasi backscattering, di mana sebagian besar daya diperoleh dari antena eksternal yang berada di luar tubuh, dalam jarak sekitar 30-60 sentimeter. Antena eksternal memancarkan gelombang radio frekuensi tinggi yang kemudian dimodulasi oleh antena di dalam sensor dan dipantulkan kembali ke antena luar. Data suhu dikirimkan setiap detik, memungkinkan pemantauan suhu secara kontinu.

Uji Coba pada Hewan dan Potensi Aplikasi

Tim peneliti telah menguji sensor ini pada babi, baik saat hewan tersebut dalam kondisi terbius maupun saat sadar dan bergerak. Sensor mampu mendeteksi dan mengirimkan data suhu secara akurat di kedua skenario. Menurut Giovanni Traverso, salah satu penulis studi dan profesor teknik di MIT serta gastroenterolog di Brigham and Women’s Hospital, sensor ini memiliki potensi aplikasi luas. “Sensor seperti ini memberi kita kemampuan untuk memonitor infeksi dan mengidentifikasinya sejak dini,” ujarnya. Hal ini sangat relevan untuk pasien dengan sistem imun lemah, seperti yang menjalani kemoterapi atau pengobatan imunosupresif.

Selain untuk deteksi infeksi, sensor ini dapat digunakan untuk memantau suhu pasien saat anestesi yang sering mengganggu mekanisme pengaturan suhu tubuh, memonitor demam pada anak-anak, membantu pasangan yang merencanakan kehamilan dengan mendeteksi ovulasi, serta memantau atlet atau personel militer yang terpapar suhu ekstrem. Tim MIT kini sedang mengintegrasikan sensor suhu dengan sensor lain untuk mengukur tanda vital seperti detak jantung, dan berencana memulai uji klinis dalam beberapa tahun ke depan.

Traverso optimistis bahwa teknologi ini pada akhirnya dapat menggantikan semua jenis termometer. “Jika kita memiliki sistem miniatur yang mudah ditelan dan memberikan data yang sangat akurat, saya pikir ini bisa membantu dalam banyak hal,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.