Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada perdagangan hari Senin, 11 Mei 2026. Rupiah terpantau bergerak fluktuatif dan diprediksi akan menembus level Rp17.430 per USD akibat tekanan dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah pada awal perdagangan pagi ini tercatat berada di posisi Rp17.417 per USD, turun 35 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang di angka Rp17.382 per USD. Sementara itu, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di level Rp17.370 per USD pada waktu yang sama. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak volatil sepanjang hari namun cenderung melemah dengan kisaran antara Rp17.380 hingga Rp17.430 per USD.
Tekanan pada rupiah ini berkaitan dengan memburuknya situasi geopolitik di Teluk Persia. Presiden AS Donald Trump menolak respons Iran terhadap proposal perdamaian yang diajukan Washington, sehingga harapan meredanya ketegangan dalam waktu dekat menjadi pupus. Proposal tersebut mengusulkan penghentian aktivitas pengayaan uranium Iran selama dua dekade serta pembongkaran fasilitas nuklir utama dengan imbalan pencabutan sanksi dan penghentian aksi militer. Namun, Iran menanggapi dengan syarat pencabutan sanksi, penarikan kehadiran angkatan laut AS di Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan atas hak nuklir tertentu.
Situasi ini langsung berimbas pada pasar keuangan global termasuk rupiah yang sensitif terhadap risiko eksternal. Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada Selat Hormuz yang masih sebagian besar tertutup sejak awal konflik, berpotensi menghambat arus minyak dunia dan menambah ketidakpastian pasar.
Dari sisi domestik, utang pemerintah Indonesia per 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun atau naik hampir tiga persen dibandingkan Desember 2025 yang sebesar Rp9.637,9 triliun. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat 40,75 persen dengan defisit APBN kuartal pertama 2026 mencapai Rp240,1 triliun. Meski rasio ini masih di bawah standar internasional 60 persen terhadap PDB, sejumlah lembaga pemeringkat mengingatkan pentingnya pengelolaan utang dan penerimaan negara yang cermat agar beban bunga utang tidak membebani APBN secara berlebihan.
Dalam kondisi pasar yang penuh tantangan ini, rupiah diperkirakan akan terus mengalami tekanan hingga ketegangan geopolitik di Teluk mereda. Analis Ibrahim menegaskan bahwa manajemen utang pemerintah yang hati-hati dan kebijakan fiskal yang terukur menjadi kunci stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan