Media Kampung – 18 April 2026 | Sejumlah negara mengalihkan impor energi mereka ke Amerika Serikat setelah konflik berskala besar di Timur Tengah mengguncang pasokan minyak global.

Krisis di Selat Hormuz sejak akhir Februari 2026 memutus hampir seluruh aliran minyak melalui jalur strategis itu, memicu lonjakan harga hingga lebih dari US$120 per barel.

Ketegangan maritim, termasuk serangan drone dan rudal, meningkatkan risiko pengiriman, sehingga banyak pemerintah mencari alternatif pasokan yang lebih stabil.

Amerika Serikat, dengan kapasitas cadangan strategis yang besar, menjadi tujuan utama bagi negara-negara yang khawatir akan kelangsungan energi mereka.

Indonesia, sebagai importir energi terbesar di Asia Tenggara, menandatangani kesepakatan tambahan dengan DOE untuk meningkatkan pembelian minyak mentah AS pada bulan April 2026.

Dalam pernyataannya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif, menyatakan, “Diversifikasi sumber impor energi adalah langkah krusial untuk menjaga keamanan energi nasional di tengah volatilitas pasar.”

Filipina juga menegaskan komitmennya untuk meningkatkan pembelian LNG dari fasilitas pelabuhan Gulf Coast, mengingat penurunan pasokan gas dari Qatar.

Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr., menambahkan, “Ketergantungan pada satu jalur perdagangan tidak lagi dapat diterima; kami memilih kemitraan yang dapat menjamin pasokan berkelanjutan.”

Bangladesh, yang sebelumnya mengimpor mayoritas minyak mentahnya dari Arab Saudi, kini menargetkan 30% peningkatan impor dari AS dalam dua tahun ke depan.

Kepala Biro Energi Bangladesh, Md. Shahidul Islam, menjelaskan, “Krisis Hormuz memaksa kami meninjau kembali kebijakan energi dan mengamankan alternatif yang lebih dapat diandalkan.”

Malaysia, yang mengalami gangguan pasokan gas cair (LNG) akibat penutupan jalur pelayaran, menandatangani kontrak jangka pendek dengan perusahaan LNG AS untuk suplai tahunan sebesar 1,2 juta ton.

Menurut Fatih Birol, Direktur Eksekutif IEA, “Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, pasar energi global akan tetap berada dalam tekanan ekstrem, memaksa banyak negara mengalihkan pasokan ke sumber alternatif seperti AS.”

Data IEA mencatat bahwa sejak Maret 2026, IEA telah mengeluarkan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat, jumlah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.

Pengeluaran cadangan tersebut menurunkan tekanan jangka pendek, namun tidak menghilangkan kebutuhan jangka panjang akan sumber pasokan baru.

Negara-negara Afrika Barat, termasuk Nigeria dan Ghana, juga mengumumkan rencana diversifikasi ke impor minyak mentah AS, mengingat penurunan produksi di wilayah Teluk Persia.

Kepala Kementerian Energi Nigeria, Saleh Maina, menegaskan, “Kerjasama dengan Amerika Serikat memberikan kami kepastian pasokan dan membantu menstabilkan harga domestik.”

Di Timur Tengah, Iran memperkuat kontrol atas pelayaran di Selat Hormuz, memperparah isolasi ekonomi negara-negara yang menolak tekanan AS.

Konflik ini memicu respon serupa di negara-negara di kawasan Kaukasus, seperti Azerbaijan, yang meningkatkan impor gas cair dari pelabuhan Gulf Coast untuk mengamankan kebutuhan industri.

Pembelian energi AS juga didorong oleh kebijakan harga yang lebih kompetitif berkat penurunan produksi domestik di AS sejak 2023.

Menurut laporan Bloomberg, harga spot minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tetap lebih rendah dibandingkan Brent, membuatnya menarik bagi pembeli internasional.

Meski demikian, peningkatan permintaan ini menambah tekanan pada infrastruktur pelabuhan AS, khususnya di Texas dan Louisiana.

Pemerintah AS menyatakan kesiapan meningkatkan kapasitas terminal ekspor untuk mengakomodasi lonjakan permintaan global.

Sejumlah negara Uni Eropa, termasuk Spanyol dan Italia, masih mengandalkan impor minyak Mediterania, namun mulai mengevaluasi opsi diversifikasi ke AS sebagai langkah mitigasi risiko.

Ketua Komisi Energi UE, Kadri Simson, mencatat, “Diversifikasi sumber energi adalah prioritas strategis UE dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik.”

Secara keseluruhan, pergeseran impor energi ke AS mencerminkan realitas baru di mana keamanan pasokan menjadi faktor utama dalam kebijakan luar negeri.

Kondisi terkini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz masih ditutup sebagian, upaya diplomatik untuk membuka kembali jalur tersebut belum menunjukkan hasil signifikan.

Para analis memperkirakan bahwa hingga akhir 2026, sebagian besar negara yang terdampak akan tetap mempertahankan sebagian impor energi dari AS sebagai cadangan strategis.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.