Media Kampung – Kenaikan harga sapi impor yang berasal dari Australia menjadi sorotan penting di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Harga sapi impor yang melonjak ini dipengaruhi oleh kondisi pasar global serta dinamika geopolitik yang tidak menentu. Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Panjono, menilai situasi ini memberikan sinyal penting terkait ketahanan pangan hewani di Indonesia.

Namun, dari sudut pandang nasional, kondisi ini menimbulkan risiko terhadap ketahanan pangan. Jika harga sapi impor terus tinggi, volume impor bisa menurun sehingga pemotongan sapi lokal meningkat untuk memenuhi kebutuhan pasar. Dampak jangka panjangnya, populasi sapi nasional berpotensi menurun hingga menyebabkan kelangkaan. Prof. Panjono menjelaskan, “Kalau impor turun, pemotongan domestik naik dan ini akan menurunkan populasi sapi kita, berujung pada kelangkaan.”

Pemerintah menetapkan target populasi sapi nasional mencapai 19,9 juta ekor pada 2026, sementara pada 2025 populasi baru mencapai sekitar 13,5 juta ekor. Selisih yang cukup besar ini menunjukkan perlunya langkah strategis untuk mempercepat peningkatan populasi sapi. Prof. Panjono menyebutkan perlu percepatan program pembiakan, peningkatan produktivitas indukan, serta pengendalian pemotongan ternak produktif agar target tersebut dapat tercapai.

Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah yang tajam menyulitkan pelaku usaha sapi potong dalam merencanakan biaya, harga jual, dan proyeksi keuntungan. Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor penting agar pelaku usaha dapat menyusun perencanaan bisnis dengan lebih pasti dan mengurangi risiko kerugian akibat perubahan harga yang mendadak. “Yang paling utama adalah kestabilan nilai tukar rupiah agar pelaku usaha bisa menghitung biaya dan harga jual secara akurat,” kata Prof. Panjono.

Untuk mengatasi tingginya harga sapi impor, Prof. Panjono menilai bahwa pemerintah harus menjalankan strategi bertahap mulai dari jangka pendek, menengah, hingga panjang. Pada jangka pendek, impor sapi dan daging masih diperlukan untuk menjaga ketersediaan serta menahan lonjakan harga. Selain itu, masyarakat dapat didorong untuk memanfaatkan sumber protein alternatif seperti ayam, telur, ikan, dan tempe guna mengurangi tekanan permintaan daging sapi.

Strategi jangka menengah menitikberatkan pada keberlangsungan industri penggemukan hewan (feedlot) melalui kemudahan akses impor, kepastian regulasi, dan stabilitas nilai tukar rupiah. Industri ini memiliki peran penting dalam menambah nilai ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan menjaga kelangsungan pasokan sapi potong.

Untuk jangka panjang, fokus diarahkan pada peningkatan populasi sapi nasional melalui program pembiakan masif dan integrasi sapi dengan lahan perkebunan serta hutan tanaman industri. Pendekatan ini diyakini dapat mengurangi ketergantungan pada sapi bakalan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional. “Dengan program breeding dan integrasi sapi ke perkebunan serta kehutanan, suatu saat industri feedlot tidak lagi bergantung pada impor sapi dari Australia,” jelas Prof. Panjono.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan dinamika geopolitik global dapat dijadikan momentum untuk mempercepat langkah menuju swasembada daging sapi. Peningkatan populasi ternak, penguatan program breeding, serta pemanfaatan lahan secara terintegrasi menjadi kunci utama. Dengan strategi konsisten dan dukungan kebijakan jangka panjang, Indonesia memiliki potensi besar membangun industri peternakan yang mandiri dan kuat.

Prof. Panjono menegaskan bahwa ketahanan pangan khususnya di sektor daging sapi hanya akan terwujud apabila populasi sapi nasional meningkat dan ketergantungan impor dapat diminimalisasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.