Media Kampung – Seorang penambang pasir manual di Lumajang, Jawa Timur, meninggal dunia setelah tertimpa longsoran material panas sisa erupsi Gunung Semeru. Korban, Very Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, meninggal pada Minggu, 21 Juni 2026 pagi setelah menjalani perawatan intensif.

Kepala Pelaksana BPBD Lumajang, Isnugroho, membenarkan kabar duka tersebut. “Iya benar telah meninggal dunia pagi tadi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu 21 Juni 2026.

Kronologi Kejadian

Peristiwa terjadi pada Sabtu, 20 Juni 2026 dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Saat itu, Very bersama rekan-rekannya tengah menambang pasir di area bawah Gladak Perak, Sumberwuluh. Tumpukan material sisa Awan Panas Guguran (APG) yang masih menyimpan suhu tinggi tiba-tiba longsor dan menimpa tubuh korban.

Rekan-rekan korban segera mengevakuasi Very ke IGD RSUD Pasirian. Ia tiba pukul 02.00 WIB dengan kondisi luka bakar serius. Karena keterbatasan fasilitas, korban dirujuk ke RSU dr. Haryoto Lumajang pada pukul 05.40 WIB dan tiba pukul 06.20 WIB untuk mendapat penanganan intensif.

Penyebab Longsoran

BPBD Kabupaten Lumajang menyebut material yang menimpa korban merupakan endapan sisa erupsi APG Gunung Semeru pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 07.21 WIB. Saat itu erupsi meluncurkan awan panas sejauh 4.500 meter ke arah Curah Kobokan. Meski tidak mencapai permukiman, endapan material di jalur lahar masih sangat panas dan labil.

Imbauan BPBD

Menanggapi kejadian ini, Kalaksa BPBD Lumajang mengimbau warga menghentikan aktivitas penambangan di zona rawan, terutama pascaerupsi. “Material APG bisa menyimpan panas hingga berhari-hari. Satu kali longsor, nyawa taruhannya,” tegas Isnugroho.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.