Media Kampung, Lumajang Aiptu Susanto Kurniawan, anggota Polres Lumajang, menjadi contoh nyata bahwa luka fisik tak mampu menghentikan pengabdian. Pada 11 Desember 2025, ia mengalami luka bacok parah saat mengejar dua pelaku pencurian sepeda motor di Lumajang. Akibat sabetan senjata tajam, tangan kanannya mengalami cacat permanen. Namun, setelah dua bulan menjalani pemulihan, ia kembali berseragam dan kini bertugas sebagai Kasubsi Bankum Seksi Hukum Polres Lumajang.

Kronologi Peristiwa

Saat itu, Aiptu Susanto yang menjabat Kanit Binmas Polsek Ranuyoso tengah duduk di sebuah warung kopi bersama dua rekannya. Naluri penyidiknya terpancing saat melihat dua pria mencurigakan di area parkir. Mereka ternyata hendak mencuri sepeda motor. Setelah aksinya dipergoki, kedua pelaku kabur dan dikejar oleh Kurniawan serta rekannya.

Baca juga:

Pengejaran berlangsung dari Jalan Suwandi hingga Jalan Toga. Di tengah jalan, motor pelaku menabrak seorang pelajar. Satu pelaku jatuh dan diamankan, sementara pelaku lainnya melarikan diri. Saat hendak menangkap pelaku yang tersisa, Kurniawan diserang dengan senjata tajam. Tangan kanannya robek, kepalanya terkena sabetan, dan perutnya robek hingga usus keluar. Meski berlumuran darah, ia tetap sadar dan meminta bantuan warga untuk dibawa ke rumah sakit.

Pemulihan dan Kembali Bertugas

Selama sepekan, Kurniawan menjalani perawatan intensif. Dokter menyatakan tangan kanannya cacat permanen karena otot besar putus. Namun, ia bertekad pulih. “Saya harus bisa menulis, tanda tangan, dan bekerja di komputer,” ujarnya. Sekitar dua bulan kemudian, ia kembali mengenakan seragam. Untuk memudahkan terapi, ia sempat dimutasi ke Polsek Sukodono, lalu ke bagian hukum Polres Lumajang.

Pelaku yang melukainya sempat menjadi DPO dan tertangkap di Pasuruan, namun karena kembali melawan petugas, ia ditindak tegas dan meninggal.

Baca juga:

Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Istrinya mengetahui kejadian itu saat bekerja, sementara kedua anaknya yang kuliah di Surabaya mendapat kabar dari media sosial. Meski berat, keluarga justru menjadi sumber kekuatan. “Dukungan keluarga adalah obat yang tidak kalah penting dibanding pengobatan medis,” kata Kurniawan. Warga setempat juga membantu mengejar pelaku dan menjenguknya selama pemulihan.

Makna Pengabdian

Bagi Kurniawan, menjadi polisi adalah amanah, bukan sekadar pekerjaan. Selama 26 tahun bertugas di Lumajang, ia telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk erupsi Gunung Semeru saat menjadi Kanit Reskrim Polsek Candipuro. Ia percaya keamanan adalah hasil kerja sama antara polisi dan masyarakat.

Pengalaman ini relevan dengan tema Hari Bhayangkara ke-80: “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko, menekankan pentingnya kepercayaan publik. Data menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap Polri di Jawa Timur mencapai 86,6 persen.

Baca juga:

Namun, Guru Besar Filsafat UGM, Prof. Armaidy Armawi, mengingatkan bahwa kepercayaan harus dibangun melalui budaya pelayanan dan integritas yang berakar pada nilai Tribrata dan Pancasila. Kisah Kurniawan menjadi bukti bahwa kepercayaan publik dapat terwujud ketika polisi hadir melindungi masyarakat.