Media Kampung, Berastagi – Siswi berusia 16 tahun dari SMK Swasta Bersama Berastagi, Febiola Br Purba, mengalami kehilangan ingatan hingga 70 persen setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemeriksaan laboratorium menemukan tiga bakteri berbahaya pada sampel makanan yang dikonsumsi korban.
Laboratorium mengidentifikasi Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan, saus, dan bahkan pada sampel muntahan, serta Escherichia coli (E. coli) pada melon. Tidak terdeteksi Salmonella. Staphylococcus aureus diketahui menghasilkan enterotoksin yang tahan panas, sehingga meski proses pemanasan dapat membunuh bakteri, toksinnya tetap berbahaya dan dapat menyebabkan muntah, diare, serta kejang.
- Bacillus cereus – terdeteksi pada nasi
- Staphylococcus aureus – terdeteksi pada ikan, saus, dan sampel muntahan
- Escherichia coli (E. coli) – terdeteksi pada melon
Bacillus cereus biasanya berkembang pada makanan berkarbohidrat yang disimpan pada suhu ruang terlalu lama, sedangkan E. coli dapat menyebabkan diare berat atau komplikasi ginjal bila strain beracun terlibat. Kombinasi ketiga bakteri ini diperkirakan menjadi penyebab utama keracunan MBG yang dialami Febiola, yang kini dirawat intensif di rumah sakit dan menjalani terapi pemulihan ingatan.
Keluarga Febiola mengaku kesulitan menanggung biaya perawatan yang meliputi rawat inap di lima rumah sakit, vitamin, serta nutrisi khusus. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) telah memberikan pendampingan psikologis, namun bantuan finansial masih menjadi tantangan.
Kasus ini menimbulkan sorotan publik terhadap keamanan program MBG di seluruh Indonesia. Pemerintah berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap penyedia makanan sekolah serta meningkatkan standar penyimpanan dan distribusi makanan bergizi untuk mencegah kejadian serupa.











Tinggalkan Balasan