Media Kampung, Jawa Barat – Gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,3 mengguncang Kabupaten Cianjur pada Selasa sore, 1 September 2026, pukul 17.53 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa ini dirasakan hingga wilayah Cibubur, Jakarta Timur dan sejumlah daerah lainnya di Jawa Barat.
Berdasarkan analisis BMKG, episenter gempa terletak di darat pada koordinat 6.91 Lintang Selatan dan 107.10 Bujur Timur, sekitar 10 km barat daya Kabupaten Cianjur, dengan kedalaman 4 km. Kepala BMKG Wilayah II Tangerang Selatan, Hartanto, menjelaskan bahwa gempa ini merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah tersebut.
BMKG mencatat intensitas getaran yang dirasakan masyarakat sebagai berikut:
- Cianjur: Skala Intensitas III-IV MMI, getaran dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah.
- Wilayah Kota Sukabumi, Cibadak, Nagrak, Warung Kondang, Cimahi, Cilaku: Skala Intensitas II-III MMI, getaran terasa nyata dalam rumah dan mirip truk yang melintas.
- Wilayah Kota Bandung, Ciburial, Sukaraja: Skala Intensitas II MMI, getaran dirasakan beberapa orang, benda ringan bergoyang.
Hingga saat ini, belum ada laporan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut. BMKG juga belum menemukan aktivitas gempa susulan sampai pukul 18.15 WIB.
Sementara itu, BMKG mengungkapkan kebutuhan anggaran untuk tahun 2027 mencapai Rp 4,649 triliun, namun pagu anggaran yang tersedia hanya Rp 2,523 triliun sehingga terdapat kekurangan sebesar Rp 2,126 triliun. Dana yang ada akan dioptimalkan untuk menjaga operasional, memperkuat infrastruktur, serta meningkatkan kualitas informasi dan peringatan dini terkait meteorologi, klimatologi, dan geofisika.
Beberapa program prioritas yang akan berjalan pada tahun 2027 antara lain Sekolah Lapang Gempa Bumi, Sekolah Lapang Iklim, pemeliharaan alat utama MKG di pusat dan daerah, serta pembangunan radar C-Band dan radar maritim X-Band di beberapa lokasi strategis seperti Bali, Aceh, Padang, dan Manado.
Selain itu, realisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga saat ini telah mencapai lebih dari 95%. Program ini bertujuan untuk mengurangi risiko kejadian hidrometeorologi ekstrem dan memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Dengan berbagai upaya tersebut, BMKG berkomitmen meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana untuk melindungi masyarakat dari risiko gempa bumi dan fenomena cuaca ekstrem di Indonesia.















Tinggalkan Balasan