Media Kampung – Elektabilitas calon presiden menjadi salah satu fokus utama jelang Pilpres 2024 dan persiapan menuju Pilpres 2029. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat ini meraih elektabilitas tertinggi dengan 42 persen dalam survei Tempo Data Science, mengungguli Prabowo Subianto yang berada di angka 15 persen dan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 10 persen. Lonjakan elektabilitas Dedi Mulyadi ini terkait dengan konsistensi dirinya dalam mengekspos interaksi mikro dengan masyarakat melalui media sosial, yang dinilai oleh ekonom senior Wijayanto Samirin sebagai faktor utama keberhasilannya membangun citra kedekatan dengan rakyat.

Di sisi lain, Partai Gerindra tetap optimis dengan peluang Prabowo Subianto memenangkan Pilpres 2024. Prabowo yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan, mengalami peningkatan elektabilitas berkat kinerjanya. Meskipun kalah dalam dua Pilpres sebelumnya, strategi bergabung dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo membawa perubahan signifikan terhadap popularitasnya.

Baca juga:

Sementara itu, Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta, terus aktif dalam kegiatan politik dan sosial. Baru-baru ini, Anies diajak Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menonton pertandingan sepak bola Persija di Jakarta International Stadium (JIS). Kegiatan ini mencerminkan upaya mempererat hubungan dan melanjutkan legacy pembangunan yang dimulai oleh Anies, termasuk penyelesaian masalah teknis seperti perbaikan kondisi rumput di JIS dan pengaturan akses yang lebih terintegrasi.

Selain itu, kedatangan Anies Baswedan ke Riau disambut hangat oleh Dewan Pimpinan Daerah Partai NasDem Kepulauan Meranti yang menunjukkan dukungan dari berbagai kalangan, termasuk relawan lintas partai, dalam rangka silaturahmi dan dialog bersama masyarakat serta tokoh agama. Kunjungan ini juga menjadi bagian dari persiapan politik Anies sebagai salah satu kandidat calon presiden 2024.

Baca juga:

Di tengah dinamika politik tersebut, isu lingkungan juga menjadi perhatian penting. Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap lintas batas negara kembali menjadi sorotan. Kalimat kontroversial Anies Baswedan dalam debat capres sebelumnya, “angin tidak punya KTP,” kini relevan dalam konteks karhutla yang berdampak pada kualitas udara di wilayah Sarawak, Malaysia, serta memaksa penutupan ratusan sekolah. Masalah ini menuntut penanganan serius dari pemerintah Indonesia karena asap yang dihasilkan berasal dari sumber di dalam negeri, bukan karena faktor eksternal.

Situasi ini mengingatkan pentingnya tanggung jawab kolektif dalam mengelola lingkungan dan mengatasi persoalan yang berimplikasi lintas negara. Kritik dan kemarahan masyarakat Malaysia yang terdampak menunjukkan urgensi agar pemerintah Indonesia meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla secara berkelanjutan.

Baca juga:

Keseluruhan perkembangan politik dan sosial ini menunjukkan kompleksitas perjalanan menuju Pilpres 2024 dan persiapan Pilpres 2029. Elektabilitas para calon, hubungan antar pemimpin, dukungan partai, serta isu-isu lingkungan dan sosial menjadi faktor-faktor yang saling memengaruhi dan menentukan arah politik nasional ke depan.