Media Kampung – Perebutan Benteng Beaufort oleh Israel di Lebanon selatan baru-baru ini mengungkap signifikansi historis benteng yang pernah direbut Salahuddin al-Ayyubi pada Perang Salib. Benteng ini menjadi titik strategis dalam konflik Israel-Hizbullah karena posisinya yang menguasai wilayah selatan Lebanon.
Militer Israel (IDF) menguasai Beaufort Castle pada akhir Mei 2026, seperti terlihat dalam rekaman kamera tubuh tentara yang mengibarkan bendera Israel di reruntuhan benteng abad pertengahan tersebut. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut pencapaian ini sebagai tahap yang menentukan dan pergeseran kebijakan mereka. Netanyahu mengatakan, “Kami telah mematahkan tembok ketakutan. Kami mengambil inisiatif. Kami beroperasi di semua front, di Suriah, di Gaza, di Lebanon.”
Pasukan darat Israel terus bergerak lebih jauh ke dalam wilayah Lebanon, melampaui garis demarkasi awal di Sungai Litani. Langkah ini menuai kritik dari Inggris, Perancis, dan Jerman, namun Israel tidak menghentikan operasinya. IDF bahkan memperingatkan lebih banyak warga untuk mengungsi dari Lebanon selatan. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh Israel melakukan hukuman kolektif.
Benteng Beaufort bukan kali pertama dikuasai Israel. Sejarah mencatat benteng ini pernah menjadi rebutan berbagai kekuatan karena letaknya yang strategis di puncak bukit, mengawasi jalur utama ke Lebanon selatan. Pada masa Perang Salib, Salahuddin al-Ayyubi merebut benteng ini dari Tentara Salib, menandai pentingnya posisi tersebut dalam pertahanan wilayah.
Kini, dalam konteks konflik Israel-Hizbullah, penguasaan Beaufort Castle memberikan keuntungan taktis bagi Israel untuk memantau pergerakan Hizbullah dan mengamankan perbatasan utara. Namun, tindakan ini juga meningkatkan ketegangan dengan Lebanon dan komunitas internasional yang mengkhawatirkan eskalasi lebih lanjut.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan