Media Kampung – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan bahwa situasi kemanusiaan di Lebanon selatan semakin memburuk, terutama di Kota Tyre dan sekitarnya. Kondisi ini dipicu oleh perintah pengungsian berulang dari Israel serta serangan militer yang masih berlangsung, berdasarkan keterangan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis, 11 Juni 2026.
OCHA mencatat banyak warga sipil yang masih bertahan di Tyre, terdiri dari penduduk setempat, pengungsi Palestina, dan warga yang sebelumnya telah mengungsi dari wilayah lain di Lebanon selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan perintah pengungsian untuk seluruh Kota Tyre, termasuk kawasan permukiman dan kamp pengungsi Palestina. Kebijakan ini diperkirakan berdampak pada sekitar 44.000 orang, yang sebagian besar sudah dalam status pengungsi.
Meski menghadapi risiko keamanan, mayoritas keluarga memilih tetap tinggal karena keterbatasan pilihan. Sebagian warga mengungsi ke Kota Saida dan Distrik Chouf di Kegubernuran Mount Lebanon. OCHA mencatat tidak terjadi perpindahan massal dari kamp-kamp pengungsi Palestina pada Selasa, 9 Juni 2026, namun sekitar 10.000 orang sebelumnya telah mencari perlindungan di fasilitas UNRWA di Saida dan Lebanon utara setelah perintah pengungsian dikeluarkan sepuluh hari lalu.
Serangan militer juga mengganggu layanan kesehatan. Serangan udara di dekat pusat Palang Merah Lebanon di Tyre pada Senin, 8 Juni 2026 menewaskan lima orang dan melukai delapan lainnya, termasuk empat paramedis. PBB kembali menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan menyerukan akses kemanusiaan yang aman serta penghormatan terhadap hukum humaniter internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




