Media Kampung – Iran mengajukan proposal damai baru kepada Amerika Serikat lewat Pakistan, namun Presiden AS Donald Trump menyatakan ketidakpuasan karena tawaran tersebut belum memenuhi tuntutan Washington.
Proposal tersebut diserahkan kepada Islamabad pada awal April 2026 sebagai upaya mematahkan kebuntuan yang telah berlangsung selama tiga minggu, dengan harapan mediasi Pakistan dapat menjembatani komunikasi antara kedua pihak.
Trump menegaskan bahwa isi proposal Iran mengandung permintaan yang tidak dapat disetujui, menambahkan bahwa AS hanya memiliki dua pilihan: melanjutkan serangan atau mencapai kesepakatan.
Presiden AS juga mengacu pada Undang-Undang Kewenangan Perang yang mewajibkan persetujuan Kongres bila konflik berlanjut lebih dari 60 hari, meski ia berargumen bahwa gencatan senjata yang ada telah menghentikan perhitungan waktu tersebut.
Berbagai pakar hukum internasional menolak interpretasi Trump, menyatakan bahwa perhitungan 60 hari tetap berjalan selama tidak ada perjanjian damai resmi yang ditandatangani.
Pihak pemerintah Iran melalui media resmi melaporkan bahwa proposal damai telah diserahkan kepada Pakistan untuk disampaikan kepada Washington, menegaskan komitmen Tehran untuk mencari solusi diplomatik.
Pakistan, yang sebelumnya memfasilitasi diplomasi jalur belakang, kembali berperan sebagai mediator utama, dengan Islamabad berupaya menyampaikan pesan-pesan strategis antara Tehran dan Washington.
Pemerintah Islamabad menilai peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka, meskipun posisi Iran dan AS semakin mengeras dalam beberapa minggu terakhir.
Konflik ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, terutama setelah data PBB menunjukkan bahwa perang tersebut memicu kemiskinan pada 30 juta orang di seluruh dunia.
Di dalam negeri, Iran mengalami perdebatan antara melanjutkan jalur diplomasi atau meningkatkan tekanan melalui potensi blokade Selat Hormuz sebagai alat tawar.
Para pejabat Iran berharap konflik dapat diakhiri sebelum pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertengahan Mei, yang dianggap penting bagi dinamika geopolitik regional.
Gencatan senjata yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu dianggap sebagai pencapaian penting, meski perundingan sebelumnya di Islamabad pada awal April gagal menghasilkan kesepakatan final.
Sementara itu, pejabat AS mulai mempertimbangkan kembali opsi militer, dengan program nuklir Iran tetap menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi.
Hingga kini, gencatan senjata masih bertahan, dan kedua negara terus melakukan dialog meskipun ketegangan tetap tinggi dan solusi akhir belum tercapai.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan