Media Kampung – 13 April 2026 | Iran mengungkap alasan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping belum dapat melintasi Selat Hormuz, menyebut kondisi keamanan di selat masih tidak normal akibat situasi perang yang sedang berlangsung.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa meski akses laut tidak ditutup, semua kapal harus mematuhi protokol ketat yang diberlakukan oleh otoritas Iran selama masa konflik. Hal ini dilakukan untuk mencegah insiden yang dapat memperburuk situasi geopolitik dan memastikan bahwa setiap pergerakan kapal tidak mengganggu operasi militer yang sedang berlangsung.

“Selat Hormuz saat ini tidak dalam kondisi biasa. Harus melalui beberapa protokol yang ditetapkan oleh pihak keamanan,” kata Boroujerdi dalam konferensi pers di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, 11 April 2026.

Protokol tersebut mencakup proses koordinasi dan negosiasi dengan pasukan keamanan Iran, serta verifikasi identitas dan muatan kapal sebelum izin melintas diberikan. Verifikasi meliputi pemeriksaan dokumen, sensor pelacakan, dan persetujuan dari komando maritim setempat.

Iran menegaskan prinsipnya tidak menutup jalur pelayaran minyak global, namun menolak setiap kapal yang tidak memenuhi persyaratan keamanan yang ditetapkan.

Kedua kapal yang tertahan adalah VLCC Pertamina Pride dan supertanker Gamsunoro, keduanya berada di Teluk Arab sejak awal April dan masih menunggu persetujuan resmi.

Vega Pita, Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping, menyatakan bahwa Kementerian Luar Negeri Indonesia terus melakukan komunikasi intensif dengan otoritas Iran untuk mempercepat proses perizinan.

PIS bersama Kemlu memantau perkembangan harian, menyiapkan langkah teknis, dan menekankan prioritas keselamatan awak kapal serta keamanan muatan minyak.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang meletus pada 28 Februari 2026 telah menyebabkan penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia. Konflik tersebut mengguncang pasokan minyak global, memaksa negara‑negara konsumen mencari rute alternatif.

Menurut laporan internasional, hanya sekitar dua belas kapal per hari diizinkan melintas, dengan tarif transit mencapai puluhan miliar rupiah. Biaya tinggi mencerminkan ketegangan dan kontrol ketat yang diterapkan oleh otoritas Iran.

Meskipun pada 7 April 2026 gencatan senjata diumumkan dan tiga kapal tanker lain berhasil melewati selat melalui rute khusus, dua kapal Pertamina masih belum memenuhi semua persyaratan protokol keamanan Iran.

Pihak Pertamina berharap proses koordinasi dapat selesai dalam waktu dekat, sambil meminta dukungan doa dari masyarakat Indonesia agar kapal‑kapal tersebut dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.