Media Kampung – Krisis kesehatan mental yang dipicu oleh media sosial semakin mengkhawatirkan. Dokter Ngabila Salama, dalam sebuah wawancara, mengungkapkan bahwa fenomena self diagnose dan tekanan dari flexing di media sosial menjadi pemicu utama. Ia juga menyoroti layanan pemerintah yang sudah tersedia untuk membantu masyarakat.

Menurut dr. Ngabila, media sosial seringkali menampilkan kehidupan yang tidak realistis, penuh dengan flexing dan pencapaian semu. Hal ini membuat banyak orang merasa inferior dan kemudian melakukan self diagnose terhadap kondisi mental mereka sendiri, tanpa bantuan profesional. Padahal, di balik unggahan indah tersebut, ada cerita yang tidak terlihat.

Ia menambahkan bahwa dampak media sosial tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Screen time yang berlebihan pada balita bisa menyebabkan obesitas, prestasi belajar menurun, dan perundungan. Anak usia sekolah pun rentan mengalami bullying yang tidak terdeteksi, yang berujung pada gangguan mental.

Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan DKI, telah menyediakan layanan konsultasi online ke psikolog di Puskesmas secara gratis. Untuk kasus yang lebih berat, rumah sakit rujukan seperti RS Soeharto Heerdjan (RS Grogol) menawarkan rehabilitasi psikososial bagi penderita skizofrenia, sehingga mereka bisa kembali produktif.

dr. Ngabila mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan profesional dan memanfaatkan layanan yang sudah ada. Jangan biarkan media sosial dan self diagnose memperburuk kondisi mental.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.