Media Kampung – ChatGPT, salah satu chatbot AI paling populer, kini tengah menghadapi sorotan serius terkait penggunaannya dalam memberikan saran medis. Kasus gugatan hukum yang diajukan oleh Scott Winters terhadap OpenAI menyoroti risiko pengguna mengandalkan ChatGPT untuk diagnosa kesehatan yang kritis.

Scott Winters, mantan pendeta asal Florida, menggugat OpenAI karena klaim bahwa saran medis dari ChatGPT mengakibatkan keterlambatan penanganan emboli paru yang hampir merenggut nyawanya. Dalam gugatan yang diajukan di Pengadilan Tinggi San Francisco pada Juli 2026, Winters menyatakan bahwa ChatGPT-4o berkali-kali meremehkan gejala pusing dan tekanan darah tidak stabil yang dialaminya serta menyarankan untuk tetap diam di kursi malas, yang kemudian dikaitkan oleh dokter dengan imobilitas berkepanjangan yang memperparah kondisi emboli paru tersebut.

Baca juga:

Kasus ini bukanlah kejadian tunggal. Sebelumnya, pada Mei 2026, sepasang orang tua di Texas juga menggugat OpenAI setelah anak mereka meninggal akibat overdosis, dengan tuduhan bahwa perusahaan gagal menjalankan mekanisme pengamanan yang semestinya pada chatbotnya.

Berbagai gugatan tersebut membuka perdebatan penting mengenai sejauh mana perusahaan AI bertanggung jawab atas dampak negatif yang dialami pengguna yang mengandalkan chatbot selama krisis medis atau psikologis.

Kemampuan Diagnostik AI dalam Penelitian

Di sisi lain, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa AI, termasuk ChatGPT, memiliki kemampuan diagnosa yang kompetitif bahkan melampaui beberapa dokter dalam kondisi terkontrol. Sebuah studi di JAMA Internal Medicine tahun 2024 menguji GPT-4 dalam 20 kasus klinis menggunakan skala klinis r-IDEA dan mendapatkan skor median sempurna 10, dibandingkan dengan skor 9 untuk dokter spesialis dan 8 untuk dokter residen. Namun, AI juga lebih sering melakukan kesalahan fatal dibandingkan dokter residen.

Penelitian lanjutan di JAMA Network Open menunjukkan ChatGPT mencapai akurasi diagnosa hingga 90% dalam kasus sulit, melebihi angka 74% dari dokter tanpa bantuan AI. Ironisnya, dokter yang menggunakan ChatGPT sebagai asisten hanya mencapai 76%, karena banyak di antaranya meragukan atau mengabaikan saran AI.

Baca juga:

Studi lain yang dipublikasikan di Nature tahun 2025 membandingkan model AI Google AMIE dengan 20 klinisi pada 302 kasus kompleks nyata, dengan AMIE mencapai tingkat diagnosa benar 59%, sedangkan klinisi tanpa bantuan hanya 34%. Penggunaan AI sebagai asisten juga meningkatkan kualitas diagnosa dibandingkan menggunakan mesin pencari atau referensi standar.

Meta-analisis dari 50 studi menguatkan temuan bahwa AI mampu bersaing dan bahkan unggul dalam beberapa bidang spesialisasi pada tugas diagnosa dan triase yang distandarisasi.

Perubahan Akses dan Model Bisnis ChatGPT

Selain isu medis, OpenAI juga melakukan perubahan model bisnis dengan peluncuran GPT-5.6 pada Juli 2026, yang memperkenalkan tiga tingkat kemampuan berjenjang yakni Sol, Terra, dan Luna. Sistem ini bertujuan memberikan pengalaman konsisten bagi pengguna sekaligus memungkinkan pembaruan teknologi tanpa mengubah langganan.

Pengguna kini lebih fokus pada tingkat langganan yang mereka pilih daripada nomor versi model AI yang digunakan. Model ini mencakup berbagai produk OpenAI seperti ChatGPT, Codex, dan API, dengan tingkat performa yang berbeda tergantung pada paket langganan.

Baca juga:

Gangguan Layanan ChatGPT

Pada 25 Juli 2026, ChatGPT mengalami gangguan layanan global yang signifikan, dengan ribuan pengguna melaporkan kesulitan login dan penggunaan fitur chat baik melalui web maupun aplikasi. Data dari Downdetector menunjukkan lonjakan laporan mencapai 1.560 dalam waktu singkat, jauh di atas rata-rata dua laporan biasa.

Gangguan tersebut tidak hanya memengaruhi ChatGPT, tetapi juga produk terkait seperti DALL-E, Sora, dan Codex. OpenAI mengonfirmasi adanya masalah dengan ‘tingkat kesalahan yang meningkat’ dan sedang melakukan mitigasi serta pemantauan pemulihan layanan.

Meski demikian, data uptime OpenAI selama beberapa bulan terakhir menunjukkan layanan ini memiliki tingkat ketersediaan tinggi, sehingga gangguan seperti ini tergolong insiden langka.

Dengan berbagai dinamika tersebut, penggunaan ChatGPT dalam konteks medis dan layanan AI secara umum menuntut perhatian serius terhadap keamanan, tanggung jawab, dan transparansi dari penyedia teknologi. Pengguna disarankan untuk tidak menggantikan konsultasi medis profesional dengan chatbot AI demi keselamatan dan akurasi diagnosa.