Media Kampung, Incheon – Incheon United kembali menjadi pusat perhatian setelah serangkaian perkembangan penting di kota, mulai dari perubahan lounge premium di Bandara Internasional Incheon hingga kontroversi spanduk yang menyinggung nama klub dan dugaan favoritisme dalam kontrak plat nomor kendaraan.
Star Alliance menandatangani nota kesepahaman dengan pihak bandara pada 8 September untuk mengambil alih lounge premium yang sebelumnya dikelola Asiana Airlines. Lounge tersebut, yang terletak di Terminal 1, akan diubah menjadi ruang bermerk Star Alliance pada kuartal keempat 2026, menjawab kekosongan setelah Asiana resmi keluar dari aliansi pada 16 Desember 2026.
Empat belas maskapai anggota Star Alliance yang tetap beroperasi di ICN, antara lain Air Canada, Air China, Air India, Air New Zealand, EVA Air, Ethiopian Airlines, Lufthansa, LOT Polish Airlines, Swiss International Air Lines, Singapore Airlines, Shenzhen Airlines, Thai Airways, Turkish Airlines, dan United Airlines, akan dapat menggunakan fasilitas lounge baru ini untuk melayani penumpang premium mereka.
Bagi pendukung Incheon United, keberadaan lounge baru diharapkan meningkatkan citra kota sebagai gerbang utama Asia, meskipun tidak ada maskapai domestik yang menjadi anggota Star Alliance setelah kepergian Asiana.
Di sisi lain, suporter FC Seoul menampilkan spanduk yang memanfaatkan karakter Hanzi untuk mengubah nama Incheon United menjadi istilah menghina pada pertandingan Gyeongin Derby 5 September. Wali kota Incheon, Park Chan‑dae, mengecam aksi tersebut lewat media sosial, menilai tindakan itu melewati batas rivalitas olahraga dan menyinggung lebih dari tiga juta warga Incheon. Komite disiplin K League dijadwalkan mengadakan pertemuan pada 10 September untuk menentukan sanksi, yang diperkirakan meliputi denda berat atau pembatasan tiket penonton.
Sementara itu, kontrak penerbitan plat nomor kendaraan di Incheon menimbulkan sorotan baru. Setelah proses tender terbuka, dua perusahaan yang dikelola oleh ayah dan anak terpilih sebagai pemenang, meskipun tidak ada regulasi yang melarang pihak terkait. Kedua perusahaan berbagi kepemilikan tanah di Hagik‑dong, Michuhol District, dan saling menjaminkan properti dengan nilai hingga 780 juta won, menimbulkan tuduhan favoritisme dan pelanggaran terhadap ordinansi kota yang seharusnya memberi wewenang penunjukan kepada kepala distrik.
Dalam ranah sepak bola, Komite Wasit KFA menegaskan bahwa kartu merah yang diberikan kepada pemain Incheon United serta gol bunuh diri melawan Seoul adalah keputusan yang tepat, meski muncul spekulasi terkait hubungan dengan kesepakatan bisnis senilai 11,3 miliar won yang sedang diproses.
Berbagai isu ini menegaskan tantangan yang dihadapi Incheon United dan pemerintah kota dalam menjaga reputasi sekaligus meningkatkan layanan bagi penumpang dan warga. Pengembangan lounge Star Alliance dapat menjadi nilai tambah, sementara kontroversi spanduk dan dugaan favoritisme menuntut tindakan tegas untuk mempertahankan integritas olahraga dan tata kelola publik.











Tinggalkan Balasan