Media Kampung – Digitalisasi di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menghadirkan tantangan ganda yang harus dihadapi pimpinan digital. Mereka dituntut untuk berinovasi dengan cepat agar layanan publik tetap relevan dan memenuhi ekspektasi masyarakat. Namun, di sisi lain, kewajiban menjaga akuntabilitas agar setiap keputusan dan pengeluaran dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam persiapan audit, tidak boleh diabaikan.

Mempercepat digitalisasi tanpa memperhatikan akuntabilitas berpotensi menimbulkan temuan audit yang merugikan, sementara mengutamakan kehati-hatian berlebih dapat membuat layanan publik tertinggal dari kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. IT outsourcing yang tepat menjadi solusi untuk mengatasi dilema ini, dengan menjadikan akuntabilitas sebagai bagian alami dari proses kerja sehari-hari, bukan sebagai beban tambahan menjelang audit.

Baca juga:

Hambatan Utama dalam Digitalisasi BUMN

Beberapa kendala yang sering dihadapi dalam proses digitalisasi BUMN adalah:

  • Data Terpisah Antar Unit: Struktur induk dan anak perusahaan sering menggunakan sistem yang berbeda-beda, sehingga data tidak mengalir lancar antar unit. Hal ini menyulitkan pengambilan keputusan berbasis data meskipun data sebenarnya tersedia.
  • Kepatuhan pada Perlindungan Data: Ketentuan terkait perlindungan data pribadi dan keamanan informasi mempengaruhi keputusan arsitektur sistem, termasuk lokasi penyimpanan data dan pencatatan akses, yang jika dipenuhi setelah sistem berjalan dapat menambah biaya dan kompleksitas.
  • Kesulitan Pertanggungjawaban Hasil: Dokumentasi yang kurang lengkap atas hasil pekerjaan digitalisasi mempersulit proses audit meski pekerjaan selesai dengan baik.

Akuntabilitas sebagai Bagian dari Proses Kerja

Akuntabilitas menjadi beban jika disiapkan hanya menjelang audit. Sebaliknya, akuntabilitas akan terasa ringan bila tercipta secara otomatis dari pelaksanaan pekerjaan sehari-hari. Misalnya, pencatatan dalam alat manajemen proyek yang mendokumentasikan siapa mengerjakan, kapan selesai, dan kriteria penerimaan pekerjaan. Catatan ini bukan dibuat untuk audit, melainkan merupakan hasil sampingan dari tata kelola yang tertib.

Setiap perubahan pada sistem harus memiliki jejak yang jelas, mulai dari kebutuhan yang mendasari hingga persetujuan penerapannya ke lingkungan produksi. Dengan pendekatan ini, penyusunan bahan audit berubah menjadi pengumpulan dokumen yang sudah ada, bukan menyusun ulang dari ingatan.

Baca juga:

Interoperabilitas Sistem Antar Unit

Integrasi sistem di antara unit-unit BUMN sering dianggap proyek besar yang memerlukan penyeragaman total. Namun, pendekatan pragmatis yang lebih efektif adalah membangun lapisan penghubung dengan standar yang disepakati bersama. Setiap unit tetap mempertahankan sistemnya, tetapi menyediakan antarmuka dengan format dan aturan akses yang seragam. Pendekatan ini memungkinkan integrasi bertahap tanpa mengganggu operasi unit masing-masing.

Strategi ini juga sesuai dengan kebijakan pemerintah yang mengedepankan pertukaran data yang aman dan standar, bukan penyatuan sistem secara paksa.

Tanda-tanda Perlunya Evaluasi Digitalisasi

<pPendekatan digitalisasi perlu ditinjau ulang apabila ditemukan hal-hal berikut:

Baca juga:
  • Data antar unit tidak mengalir, sehingga laporan gabungan harus disusun secara manual.
  • Kepatuhan baru dipertimbangkan setelah sistem selesai dibangun.
  • Penyusunan bahan audit membutuhkan kerja tambahan besar setiap kali dilakukan.
  • Vendor sebelumnya meninggalkan sistem tanpa dokumentasi memadai.
  • Anggaran digitalisasi sulit dihubungkan dengan hasil nyata.
  • Belum ada standar antarmuka yang disepakati antar unit atau anak perusahaan.
  • Belum diketahui data mana yang harus disimpan sesuai ketentuan khusus.

Langkah Awal Bersama Sagara Technology

Sagara Technology menawarkan pendekatan bertahap yang memungkinkan kemajuan nyata tanpa risiko besar di awal, meliputi:

  • Konsultasi Discovery: Mengidentifikasi hambatan paling kritis di unit terkait.
  • Audit Arsitektur: Menilai kepatuhan dan keamanan sistem yang berjalan.
  • Proyek Percontohan: Penerapan terbatas pada satu unit kerja untuk mengukur dampak secara nyata sebelum perluasan.

Setiap tahap menghasilkan dokumentasi yang siap digunakan untuk pelaporan internal maupun audit eksternal.

Implementasi digitalisasi yang mengedepankan akuntabilitas sebagai bagian dari proses kerja sehari-hari akan memastikan layanan publik dapat berkembang sesuai kebutuhan masyarakat sekaligus memenuhi persyaratan audit secara efektif. Pendampingan oleh Sagara Technology menjadi kunci dalam mewujudkan transformasi digital BUMN yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.