Media Kampung – 17 April 2026 | Kemlu RI menyatakan bahwa Iran memberi lampu hijau bagi dua kapal tanker Pertamina untuk melintasi Selat Hormuz, menandai langkah penting dalam upaya pembebasan kapal yang tertahan sejak awal Maret 2026. Pernyataan ini disampaikan pada taklimat media di Jakarta pada Kamis, 16 April 2026.
Juru Bicara II Kemlu Vahd Nabyl A. Mulachela menjelaskan bahwa koordinasi intensif telah dilakukan dengan Angkatan Bersenjata Iran dan Kementerian Luar Negeri Iran sejak respons positif tersebut diterima. Koordinasi meliputi pemantauan kondisi teknis, kesiapan kru, dan asuransi pelayaran.
Kedua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di perairan Teluk Persia; Vessel Finder mencatat Pertamina Pride berlabuh di lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sementara Gamsunoro berada di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab. Posisi tersebut menunjukkan bahwa kapal belum dapat memasuki Selat Hormuz meski lampu hijau telah diberikan.
Pemerintah Indonesia menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz sebagai jalur laut internasional yang aman, terbuka, dan sesuai dengan hukum laut internasional. Indonesia menolak segala ancaman terhadap kapal niaga dan menekankan keselamatan pelaut sebagai prioritas utama.
Yvonne Mewengkang, Juru Bicara I Kemlu, menambahkan bahwa permintaan overflight clearance oleh Amerika Serikat tidak mempengaruhi proses negosiasi dengan Iran. “Proses terus berjalan dan kami menunggu detail mekanisme selanjutnya dari pihak Iran,” ujarnya.
Pertamina melalui Corporate Secretary Arya Dwi Paramita mengonfirmasi bahwa perusahaan terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri serta Kedutaan Besar RI di Tehran untuk mempercepat pembebasan kapal. “Kami tetap memantau situasi dan siap mengambil langkah teknis bila lampu hijau sudah resmi,” katanya.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa komunikasi dengan awak kapal dilakukan secara rutin untuk memastikan kesejahteraan kru. “Kesehatan dan keamanan kru menjadi fokus utama selama kapal masih berada di zona risiko,” ujarnya.
Analisis para ahli energi menilai bahwa pembebasan dua tanker tersebut dapat mengurangi tekanan pada pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz menyumbang sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Lampu hijau Iran dipandang sebagai sinyal de‑eskalasi dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pemerintah Iran melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan kesediaannya memberikan izin lintas selat setelah memastikan tidak ada ancaman keamanan bagi kapal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral yang dihadiri pejabat militer Iran.
Pemerintah Indonesia menyiapkan tim teknis khusus untuk mengawasi persiapan pelayaran, termasuk inspeksi keselamatan, verifikasi dokumen kapal, dan koordinasi dengan perusahaan asuransi internasional. Tim tersebut beroperasi 24 jam guna memastikan kesiapan seketika lampu hijau menjadi final.
Sejumlah negara sahabat, termasuk Jepang dan Uni Eropa, menyambut baik keputusan Iran dan mengajak semua pihak untuk menjaga stabilitas jalur laut. Mereka menekankan pentingnya dialog diplomatik sebagai alternatif penggunaan kekuatan militer.
Di samping upaya diplomatik, Pertamina telah menyiapkan rencana kontinjensi untuk mengalihkan muatan energi melalui jalur alternatif, termasuk penggunaan kapal tanker lain yang tidak terlibat dalam sengketa. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan pasokan domestik.
Situasi di Selat Hormuz tetap dinamis, dengan laporan intelijen menunjukkan adanya peningkatan patroli militer dari kedua belah pihak. Meskipun demikian, tidak ada insiden tembak‑menembak yang dilaporkan pada minggu ini.
Kementerian Luar Negeri RI menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada prinsip kebebasan navigasi dan penyeberangan laut sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Komitmen ini menjadi landasan diplomasi Indonesia di kawasan Teluk Persia.
Dalam pernyataannya, Juru Bicara II Kemlu menambahkan bahwa kesiapan teknis kapal mencakup pelatihan tambahan bagi awak, inspeksi mesin, dan verifikasi bahan bakar. Semua elemen ini harus dipenuhi sebelum kapal dapat berlayar kembali ke perairan internasional.
Pemerintah Iran diperkirakan akan mengirimkan tim operasional ke pelabuhan sementara untuk memastikan prosedur pelayaran berjalan lancar. Tim tersebut akan berkoordinasi dengan otoritas pelabuhan di Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab.
Hingga saat ini, belum ada tanggal pasti kapan lampu hijau akan diaktifkan secara resmi, namun sumber internal Kemlu menilai proses dapat selesai dalam beberapa hari ke depan. Kedua kapal diperkirakan akan memasuki Selat Hormuz sesegera mungkin setelah izin final diterbitkan.
Dengan lampu hijau Iran dan upaya intensif pemerintah Indonesia, harapan besar menumpuk pada pembebasan Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang diharapkan dapat mengurangi ketegangan ekonomi regional serta memastikan kelancaran perdagangan energi global. Artikel ini akan terus memperbarui perkembangan selanjutnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan