Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran hampir tercapai. Namun, Teheran dengan tegas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa proses negosiasi masih jauh dari final.
Trump menyampaikan bahwa negosiasi telah menghasilkan kemajuan besar dan dokumen kesepakatan saat ini berada dalam tahap finalisasi. Ia memperkirakan proses tersebut akan selesai dalam beberapa hari ke depan dan kemungkinan akan ada upacara penandatanganan di Eropa.
Menurut Trump, tujuan utama kesepakatan adalah memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Ia menyebut hal itu sebagai pencapaian besar yang diharapkan dapat mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Namun, Iran belum mengonfirmasi klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa laporan kesepakatan masih bersifat spekulatif dan belum ada dokumen yang benar-benar difinalisasi. Ia menegaskan bahwa Teheran masih mempelajari sejumlah poin penting dalam perundingan.
Konflik antara AS dan Iran terus berlangsung sejak serangan yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Meskipun kedua negara telah menyepakati gencatan senjata pada April lalu, bentrokan sporadis masih terjadi. Pekan ini, kedua pihak kembali terlibat dalam serangan balasan yang meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali setelah kesepakatan ditandatangani. Sementara itu, Israel mengonfirmasi adanya komunikasi antara Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait perkembangan negosiasi. Namun, pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka bukan pihak dalam nota kesepahaman yang sedang dibahas antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Iran menyebut sebagian besar isi dokumen perundingan sebenarnya telah disepakati. Namun, Teheran menuduh Washington mengajukan tuntutan tambahan yang dianggap berlebihan. Pemerintah Iran juga menegaskan tidak akan melanggar garis merah yang telah ditetapkan dalam proses negosiasi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta sejumlah negara, termasuk Pakistan, Rusia, Tiongkok, Turki, India, dan Arab Saudi, menyerukan deeskalasi konflik. Mereka juga mendorong semua pihak untuk kembali ke jalur diplomasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan