Media Kampung – 12 April 2026 | Iran memilih Pakistan sebagai mediator utama dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, bukan Indonesia, karena serangkaian faktor diplomatik dan strategis yang dinyatakan oleh Duta Besar Mohammad Boroujerdi.
Pernyataan tersebut disampaikan pada 11 April 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, saat Boroujerdi bertemu wartawan dan akademisi.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, telah menggelar serangkaian inisiatif gencatan senjata yang dianggap Iran lebih konsisten dibandingkan upaya Indonesia.
“Usaha Perdana Menteri Pakistan dalam mendorong gencatan senjata sangat kuat, itulah yang membuat kami merasa nyaman bernegosiasi di Islamabad,” ujar Boroujerdi.
Pakistan juga dipandang netral secara geografis, berbatasan dengan Afghanistan dan Iran, sehingga memudahkan jalur komunikasi lintas wilayah.
Kedekatan Pakistan dengan Amerika Serikat, yang ditunjukkan oleh kunjungan wakil presiden AS JD Vance ke Islamabad, memperkuat peran mediator.
Indonesia, meski memiliki hubungan diplomatik selama 70 tahun dengan Iran, belum menunjukkan kedekatan operasional yang cukup untuk memfasilitasi pertemuan tiga pihak.
Inisiatif Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator mendapat kritik luas karena dianggap tidak realistis dan kurang didukung oleh jaringan diplomatik.
Kementerian Luar Negeri RI sempat mengumumkan kesiapan memfasilitasi dialog pada 28 Februari 2026, namun tawaran itu tidak direspons secara positif oleh pihak Iran.
Iran menekankan perlunya jaminan penghapusan sanksi, penarikan pasukan AS, dan pengakuan terhadap program nuklir sebagai prasyarat utama.
Pakistan berperan sebagai perantara dalam menyampaikan sepuluh poin persyaratan Iran kepada Gedung Putih, termasuk pencabutan sanksi.
Sepuluh poin tersebut mencakup penghentian serangan militer Israel, penarikan pasukan AS, dan penerimaan pengayaan nuklir dalam versi bahasa Farsi.
Versi bahasa Inggris yang dibagikan oleh diplomat Iran tidak memuat frasa “penerimaan pengayaan”, menimbulkan kebingungan dalam negosiasi.
Pakistan juga mendapat dukungan logistik dari Tiongkok, yang memperkuat posisinya sebagai jembatan antara Tehran dan Washington.
Sebelum pernyataan di Jakarta, Boroujerdi melakukan pertemuan dengan tiga mantan presiden Indonesia, namun tidak ada pertemuan resmi dengan Presiden Prabowo.
Menurut Boroujerdi, pertemuan dengan mantan presiden bertujuan menyampaikan situasi terkini Iran, bukan menggalang dukungan untuk mediasi.
Publik Indonesia menilai keengganan Iran pada Indonesia sebagai sinyal bahwa hubungan bilateral belum cukup kuat untuk menangani isu strategis.
Keputusan Iran memilih Pakistan dapat memperkuat peran Islamabad dalam diplomasi Timur Tengah dan menambah beban politik bagi Indonesia.
Pejabat tinggi Pakistan menyambut kedatangan delegasi Iran dan AS dengan optimisme, menegaskan komitmen negara mereka terhadap perdamaian dua pekan.
Gencatan senjata yang disepakati berlangsung selama dua minggu sejak awal April 2026, namun detail lanjutan masih dalam pembicaraan.
Jika negosiasi di Islamabad berhasil, Iran berpotensi melanjutkan dialog di platform multilateral, namun belum menutup kemungkinan mediasi di negara lain.
“Kami menghargai peran Pakistan dan berharap proses damai dapat berlanjut tanpa gangguan,” tutup Boroujerdi pada akhir wawancara.
Indonesia kini harus meninjau kembali kebijakan luar negerinya di kawasan Timur Tengah dan memperkuat jaringan diplomatik untuk peran serupa di masa depan.
Sejak pertemuan terakhir, tidak ada laporan resmi tentang perubahan posisi Iran, sementara Pakistan terus memfasilitasi dialog lanjutan antara Tehran dan Washington.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan