Media Kampung – Iran-Oman bahas pengelolaan Selat Hormuz di tengah ancaman AS menjadi sorotan utama dalam dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah saat ini. Dalam pertemuan yang berlangsung baru-baru ini, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan solidaritasnya kepada Menteri Luar Negeri Oman Badr al-Busaidi dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat terkait pengelolaan jalur perairan strategis tersebut. Keduanya sepakat untuk membahas tata kelola Selat Hormuz ke depan sesuai dengan tanggung jawab kedaulatan dan hukum internasional, serta menyerukan konsultasi dengan seluruh negara tetangga di kawasan.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran krusial yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, terutama minyak. Iran menegaskan otoritas penuh atas pengelolaan Selat Hormuz melalui Markas Pusat Khatam al-Anbiya dan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Semua kapal, termasuk kapal komersial dan tanker minyak, wajib mengikuti rute yang telah ditentukan serta memperoleh izin melintas dari angkatan laut Iran. Dalam 24 jam terakhir, tercatat 20 kapal telah melintasi selat tersebut dengan koordinasi penuh bersama otoritas maritim Iran, yang melayani kebutuhan berbagai negara akan komoditas seperti pupuk kimia.
Ketegasan Iran ini menyusul pembatasan yang diberlakukan sejak 28 Februari, yaitu larangan bagi kapal milik atau berafiliasi dengan Amerika Serikat dan Israel untuk melintas dengan aman di Selat Hormuz. Kebijakan ini merupakan respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap wilayah Iran yang memicu balasan dari Teheran ke Israel dan pangkalan AS di negara-negara Teluk.
Sementara itu, Iran memberikan perlakuan khusus dan hak istimewa kepada Rusia dan China dalam melintasi Selat Hormuz. Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa kedua negara mitra strategis tersebut akan terus mendapatkan fasilitas menguntungkan dalam hal pelayaran dan pengelolaan jalur tersebut. Baik kapal dagang maupun kapal tanker asal Rusia dan China mendapat prioritas sebagai bentuk apresiasi atas dukungan mereka kepada Iran di masa-masa sulit.
Azizi menambahkan bahwa Selat Hormuz memiliki kepentingan geopolitik yang sangat penting bagi Iran dan merupakan bagian dari wilayah geografis serta perairan teritorial negara tersebut. Oleh karena itu, Iran berhak penuh menentukan kebijakan terkait pengelolaan dan pengaturan Selat Hormuz tanpa ada pihak yang boleh mempertanyakan hak tersebut.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran, yang dianggap sebagai perpanjangan tangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam pemungutan biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Meski begitu, otoritas ini menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa sanksi AS tidak akan memberikan kendali kepada Washington atas Selat Hormuz. Mereka menegaskan tetap menjalankan tugas pengawasan dan penerbitan izin transit bagi kapal-kapal yang tidak bermusuhan tanpa gangguan.
Di sisi lain, ancaman AS kepada Oman untuk tidak mengambil kendali atas Selat Hormuz menambah ketegangan regional. Presiden AS bahkan pernah mengancam akan “meledakkan” Oman jika negara tersebut berusaha menguasai jalur strategis tersebut. Namun, dalam diskusi bilateral, Iran dan Oman menegaskan pentingnya kerja sama dan pengelolaan bersama yang sesuai dengan hukum internasional serta kepentingan semua pihak di kawasan.
Iran-Oman bahas pengelolaan Selat Hormuz di tengah ancaman AS menunjukkan bahwa kedua negara berusaha menjaga stabilitas dan keamanan jalur pelayaran strategis ini sekaligus menegaskan kedaulatan masing-masing. Iran dengan tegas mengelola wilayah perairannya dan memberikan perlakuan khusus kepada sekutu strategis seperti Rusia dan China, sebagai bagian dari strategi geopolitik dan pertahanan nasional.
Dengan berbagai dinamika yang terus berkembang, pengelolaan Selat Hormuz menjadi isu penting yang memerlukan pendekatan diplomasi yang matang dan kerja sama regional. Iran-Oman bahas pengelolaan Selat Hormuz di tengah ancaman AS bukan hanya tentang pengelolaan wilayah, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan yang berdampak pada pasar energi global dan keamanan internasional.
Secara keseluruhan, Iran menegaskan otoritas penuh atas Selat Hormuz, memberikan hak istimewa kepada mitra strategisnya, dan terus berkoordinasi dengan Oman untuk pengelolaan selat tersebut dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan tekad kedua negara untuk mempertahankan kedaulatan serta stabilitas kawasan di tengah situasi yang penuh ketegangan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan