Media Kampung – 12 April 2026 | Pakistan dipilih sebagai penengah dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran karena posisi strategisnya serta jaringan diplomatik yang relatif netral, menurut laporan yang dirilis pada 12 April 2026.

Negosiasi yang berlangsung di Islamabad selama 21 jam belum menghasilkan kesepakatan akhir, namun keberadaan Pakistan berhasil menjaga kanal komunikasi tetap terbuka antara Washington dan Teheran.

Sejarah hubungan Pakistan dengan Amerika Serikat ditandai oleh ketegangan, termasuk tuduhan dukungan ganda pada konflik Afghanistan dan insiden Osama bin Laden pada 2011, yang membuat Amerika menyebut Islamabad sebagai ‘negara paria’ pada masa kepresidenan Donald Trump.

Di era pemerintahan Joe Biden, upaya perbaikan hubungan mulai terlihat ketika Islamabad secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap de‑eskalasi konflik Timur Tengah, sebuah langkah yang menimbulkan harapan baru di antara analis kebijakan luar negeri.

Analis Fahd Humayun mencatat, “Ada keinginan yang sangat nyata di Pakistan untuk memperluas hubungan dengan Washington,” menekankan bahwa Islamabad berupaya mengubah persepsi lama menjadi kemitraan yang lebih konstruktif.

Keunggulan geografis Pakistan menjadi faktor penentu; negara ini berbatasan langsung dengan Iran sepanjang sekitar 900 kilometer, sehingga memudahkan dialog lintas perbatasan dan pertukaran informasi intelijen.

Selain faktor geografis, Pakistan memiliki hubungan historis dan sosial yang kompleks dengan Iran, termasuk ikatan budaya, perdagangan, dan diaspora yang signifikan, yang memperkuat kemampuan Islamabad untuk berperan sebagai mediator yang diterima kedua belah pihak.

Hubungan strategis Pakistan dengan China juga menambah bobot diplomatiknya; Beijing mendukung peran Islamabad sebagai jembatan, karena kerjasama ekonomi dan keamanan antara China‑Pakistan memberikan jalur komunikasi tambahan yang dapat dimanfaatkan Tehran.

Farwa Aamer dari Asia Society Policy Institute menyatakan, “Pakistan menemukan dirinya berada di posisi unik dengan hubungan baik dengan Teheran dan Washington,” menegaskan peran ganda yang dimilikinya dalam konteks geopolitik kawasan.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan pada 11 April 2026 bahwa Iran menerima tawaran Pakistan karena upaya gencatan senjata yang konkret dan dialog intensif yang dilakukan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dengan kedua pihak.

Pernyataan Boroujerdi menambahkan bahwa Pakistan tidak hanya menjadi tuan rumah, melainkan juga aktif memfasilitasi pertukaran pandangan, sehingga mengurangi risiko mis‑interpretasi dan mempercepat proses tawar‑menawar.

Meskipun perundingan belum mencapai titik temu, sumber resmi menyebut bahwa pertemuan berikutnya dijadwalkan dalam dua minggu ke depan, dengan harapan Islamabad dapat memediasi kesepakatan gencatan senjata yang berkelanjutan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.