Media Kampung – Amerika Serikat dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan damai sementara yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz pada 19 Juni 2026. Kesepakatan ini diumumkan setelah negosiasi tidak langsung yang berlangsung selama berminggu-minggu sejak gencatan senjata awal April lalu.

Para pejabat kedua negara dijadwalkan bertemu di Swiss pada 19 Juni untuk menandatangani perjanjian secara resmi. Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan ini akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh wilayah, seraya berjanji selat akan dibuka setelah ranjau-ranjau disingkirkan.

Pengumuman ini pertama kali disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, kemudian dikonfirmasi Trump dan media pemerintah Iran. Teheran menggambarkan kesepakatan sebagai penyerahan diri oleh AS, sementara televisi pemerintah Iran menyatakan Iran secara resmi memaksa musuh AS-Israel mengakhiri perang di semua lini.

Ratusan kapal masih terjebak di kedua sisi selat, mengacaukan pasar energi global. Harga minyak Brent langsung turun lebih dari 4 persen menuju USD 83 per barel, setelah pekan lalu ditutup pada level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Kontrak berjangka indeks saham AS naik, sedangkan dolar melemah terhadap mata uang G10 lainnya.

Analis utama Asia Pasifik dan Timur Tengah eToro Ltd, Josh Gilbert, mengingatkan langkah ini masih berupa optimisme, bukan kepastian. Kecemasan belum akan mereda sampai kesepakatan benar-benar ditandatangani, sehingga investor tetap harus berhati-hati.

Kesepakatan ini diperkirakan meredakan kekhawatiran konflik yang telah menghancurkan pasar energi global dan meningkatkan risiko inflasi. Selain itu, Trump juga terbantu secara politik menjelang pemilihan paruh waktu November, mengingat perang sangat tidak populer di kalangan warga AS.

Meski demikian, Trump dalam wawancara dengan New York Times mengancam akan memulai kembali serangan militer jika kesepakatan soal program nuklir Iran tidak tercapai. Kedua pihak sudah memberikan pandangan berbeda terhadap isi kesepakatan, menunjukkan masih banyak isu yang belum tuntas.

Iran menuntut kapal yang melintasi selat diatur oleh Iran dan Oman, serta penghapusan semua sanksi primer dan sekunder dalam 60 hari negosiasi. Langkah itu membutuhkan persetujuan Kongres AS yang memberlakukan sanksi paling keras, dan berpotensi memicu protes kelompok garis keras di AS.

Insentif finansial bagi Iran juga belum jelas. Seorang pejabat senior AS mengatakan kedua pihak mengupayakan imbalan ekonomi setiap kali Iran memenuhi tuntutan AS, termasuk bantuan rekonstruksi pascabom. Namun, ketidakpercayaan masih tinggi dan Israel turut mempersulit dengan serangan baru terhadap Lebanon.

Beberapa negara Eropa—Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia—menyatakan siap mencabut sanksi terkait jika kesepakatan tercapai. Iran juga menuntut akses dana miliaran dolar yang dibekukan di luar negeri serta keringanan sanksi jangka panjang.

Selat Hormuz ditutup Iran tak lama setelah pemboman AS-Israel memicu perang, mengganggu jalur yang biasa dilalui seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Hingga kini, penyeberangan hanya sebagian kecil dari tingkat sebelum perang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.