Media Kampung – Pemerintah Jepang menggelontorkan dana tambahan sebesar Rp 310 triliun (USD 19 miliar) untuk menekan dampak lonjakan biaya hidup yang dipicu oleh konflik Iran-AS. Anggaran tersebut disetujui dalam rapat kabinet pada Rabu (3/6/2026) dan akan digunakan untuk meredam kenaikan harga bensin, listrik, dan gas yang membebani masyarakat.

Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa langkah ini diambil di tengah ketidakpastian situasi di Timur Tengah. “Kami menyusun anggaran ini dengan tujuan meminimalkan risiko,” ujarnya. Dana tambahan tersebut diharapkan memperkuat kesiapan fiskal pemerintah dan menjaga aktivitas ekonomi serta kehidupan masyarakat tetap berjalan.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menjelaskan bahwa anggaran tambahan akan difokuskan untuk meredam kenaikan harga energi yang memberatkan warga. Dampak perang Iran-AS sudah terlihat di sektor industri, seperti produsen keripik kentang Calbee yang mengubah kemasan produknya menjadi abu-abu akibat kelangkaan tinta karena gangguan pasokan.

Pemerintah Jepang memperkirakan pasokan minyak dalam negeri aman hingga musim semi tahun depan. Pasokan alternatif untuk nafta dari luar Timur Tengah juga telah pulih lebih dari 80 persen dibanding level sebelumnya. Sementara itu, Bank Sentral Jepang menaikkan proyeksi inflasi dan memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi pada April akibat lonjakan harga minyak global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.