Media Kampung – Tanker super Iran Derya yang mengangkut 1,9 juta barel minyak mentah berhasil meloloskan diri dari blokade maritim Amerika Serikat di Selat Hormuz dan kini berlayar menuju perairan Indonesia, memicu kepedulian global.

Menurut data yang dirilis oleh lembaga pemantau pergerakan kapal tanker, TankerTrackers, Derya merupakan kapal milik National Iranian Tanker Company dengan kapasitas hampir 2 juta barel, senilai sekitar USD 220 juta. Laporan tersebut menyebut, “Supertanker milik National Iranian Tanker Company yang membawa lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah berhasil menghindari Angkatan Laut AS dan mencapai kawasan Timur Jauh.”

Kapal tersebut terakhir kali terdeteksi di sekitar perairan Sri Lanka pada awal minggu lalu, namun sinyal AIS (Automatic Identification System) tiba‑tiba menghilang pada 20 Maret. Penonaktifan AIS diperkirakan merupakan taktik sengaja untuk menghindari deteksi radar militer Amerika Serikat ketika menembus jalur strategis Selat Hormuz, yang sejak 2024 dijaga ketat oleh armada laut AS guna mengekang ekspor minyak Iran.

Setelah menghilang dari radar, Derya muncul kembali pada 3 Mei di zona perairan internasional dekat Selat Lombok, kemudian melanjutkan pelayaran ke arah Selat Malaka dan selanjutnya ke Kepulauan Riau. Jalur tersebut memungkinkan kapal menyeberang dari Samudra Hindia ke Laut China Selatan tanpa melewati zona pengawasan intensif AS.

Strategi menonaktifkan AIS bukan hal baru bagi kapal-kapal yang beroperasi dalam konteks sanksi internasional. Dengan menutup transmisi data posisi, kapal dapat memanfaatkan “kegelapan” digital untuk melewati wilayah yang dipantau ketat, sekaligus mengurangi risiko intersep oleh kapal perang atau pesawat patroli. Ahli maritim dari Universitas Nasional Indonesia menilai, “Penggunaan teknik stealth digital meningkatkan peluang kapal menghindari intervensi militer, terutama ketika muatan bernilai tinggi seperti minyak mentah.”

Berita ini datang pada saat Amerika Serikat meningkatkan operasi blokade di Selat Hormuz, menyatakan tujuan utama untuk menekan pendapatan minyak Iran. Namun, keberhasilan Derya menembus blokade menunjukkan keterbatasan efektivitas strategi tersebut, terutama bila pihak Iran mengandalkan rute alternatif dan teknologi pelayaran rahasia.

Pengamat geopolitik menambahkan, kehadiran supertanker Iran di perairan Indonesia menambah dimensi baru bagi keamanan maritim Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan kesiapan untuk memantau pergerakan kapal secara intensif, namun menegaskan tidak ada pelanggaran kedaulatan wilayah yang terjadi.

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi mengenai intervensi atau penahanan Derya oleh otoritas Indonesia. Kapal diperkirakan akan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan tujuan akhir di Iran, setelah singgah untuk pengisian bahan bakar di salah satu pelabuhan di Kepulauan Riau.

Kejadian ini mempertegas pentingnya koordinasi regional dalam mengawasi jalur pelayaran utama, serta menyoroti tantangan yang dihadapi oleh kebijakan blokade maritim dalam era teknologi informasi yang semakin canggih.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.