Media Kampung – 09 April 2026 | China dan Rusia secara bersamaan menolak resolusi Dewan Keamanan PBB yang menargetkan Iran di Selat Hormuz. Keputusan tersebut menegaskan dukungan kedua negara terhadap kedaulatan Tehran.

Resolusi itu, yang didukung oleh Amerika Serikat dan sekutunya, berisi saran penempatan pasukan internasional untuk mengamankan jalur perairan strategis. Pihak Beijing dan Moskow menilai langkah itu melanggar prinsip non-intervensi.

Kedua negara menandatangani veto pada sidang PBB pada Senin (8 April 2024) setelah perdebatan intens. Veto tersebut menghalangi adopsi teks yang mengkritik kegiatan militer Iran di selat tersebut.

Pemerintah Iran menyambut keputusan itu sebagai kemenangan diplomatik. Pejabat Tehran menyatakan bahwa “keputusan veto menunjukkan solidaritas dunia terhadap hak Iran mengendalikan wilayah perairan sendiri”.

Sebaliknya, Washington mengkritik tindakan China dan Rusia sebagai upaya menutupi perilaku agresif Iran. Menteri Luar Negeri AS menegaskan bahwa Amerika akan tetap menjaga kebebasan navigasi di Hormuz.

Perselisihan ini muncul setelah mantan presiden AS Donald Trump mengusulkan penempatan pasukan AS di Selat Hormuz pada akhir 2023. Trump berargumen bahwa kehadiran militer AS diperlukan untuk menahan ancaman Iran.

Rencana Trump, yang tidak pernah direalisasikan, mendapat tentangan keras dari Iran dan sekutunya. Beijing dan Moskow menyebutnya “ambisius” dan “mengancam stabilitas regional”.

Analis keamanan internasional menilai veto ini menandai pergeseran aliansi dalam geopolitik Timur Tengah. China semakin memperkuat hubungannya dengan Tehran melalui investasi energi dan militer.

Rusia, yang terlibat dalam konflik Ukraina, mencari cara memperluas pengaruhnya di kawasan Teluk. Dukungan terhadap Iran menjadi bagian dari strategi memperkuat blok anti‑Barat.

Sementara itu, Amerika Serikat meningkatkan patroli kapal perang di selat itu sebagai respons atas veto tersebut. Angkatan Laut AS menegaskan komitmen untuk menanggulangi gangguan maritim.

Organisasi Maritim Internasional (IMO) menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat mempengaruhi pasar minyak global. Penurunan pasokan dapat memicu kenaikan harga energi dunia.

Ekonom mengingatkan bahwa hampir 20 persen produksi minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya. Gangguan pada rute itu akan berdampak pada inflasi dan rantai pasokan.

Di dalam negeri, Iran mengumumkan peningkatan kapasitas patroli lautnya. Menurut Angkatan Laut Iran, kapal-kapal baru akan beroperasi untuk melindungi kepentingan nasional.

China menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya berlandaskan prinsip “non‑campur tangan” dan “kedaulatan”. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri, China siap mendukung Iran secara diplomatis.

Rusia menyatakan bahwa sanksi Barat tidak akan menghalangi kerja sama strategis dengan Tehran. Menteri Luar Negeri Rusia menambahkan bahwa hubungan bilateral akan terus “meningkat”.

Pihak Amerika menilai bahwa veto ini memperburuk hubungan dengan Beijing dan Moskow. Dalam pernyataan, Gedung Putih menyebut langkah tersebut sebagai “tantangan serius terhadap tatanan internasional”.

Pengamat politik menilai bahwa ketegangan ini dapat memperpanjang periode ketidakpastian di kawasan Teluk. Mereka memperkirakan dialog multilateral akan menjadi lebih sulit dalam beberapa bulan ke depan.

Meski demikian, semua pihak tampak bersedia menjaga kebebasan navigasi demi stabilitas pasar energi. Situasi di Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama diplomasi global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.