Media Kampung – 15 April 2026 | Gus Salam, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar Jombang, bertemu Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar di kantor Kementerian Agama, Jakarta, pada 14 April 2026 untuk membahas aspirasi kepemimpinan PBNU.

Pertemuan tersebut dilaporkan sebagai bentuk silaturahmi, belajar, dan diskusi antara santri dengan tokoh senior Nahdlatul Ulama yang telah mengabdi lebih dari empat dekade.

Gus Salam menyampaikan penghargaan kepada Menag, menyatakan, “Beliau kan kiai-ulama NU yang ditakdirkan mendapat tugas sebagai Menteri Agama RI. Kita sebagai santri sepatutnya sowan, ngaji-belajar dan berdiskusi dengan beliau.”

Ia menekankan pengalaman panjang Nasaruddin dalam organisasi, termasuk peran sebagai sesepuh Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) dan Katib Aam PBNU 2004‑2009.

Menurut Gus Salam, dalam dialog mereka, Prof. Nasaruddin mengungkapkan keprihatinan mendalam atas situasi internal PBNU yang belum pernah terjadi sejak berdirinya organisasi.

Gus Salam melaporkan kutipan Menag, “Waktu silaturrahim dan diskusi dengan beliau, Prof. Nasaruddin sebagaimana para sesepuh NU yang lain, merasakan keprihatinan yang mendalam atas situasi PBNU saat ini.”

Menteri Agama menekankan pentingnya rekonsiliasi antara pengurus, kader, dan pimpinan PBNU untuk mengesampingkan ego pribadi dan kelompok.

Ia menambahkan, “Beliau meminta agar ada kesungguhan dari semuanya untuk merajut kembali kebersamaan demi mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan NU di tengah‑tengah umat,” menegaskan harapan akan persatuan.

Gus Salam juga menanyakan pendapat Menag mengenai persiapan Muktamar ke‑35 Nahdlatul Ulama, yang dijadwalkan akan menentukan kepemimpinan berikutnya.

Menag menanggapi bahwa proses pergantian kepemimpinan harus dilaksanakan secara sehat, terbuka, dan beretika, serta menekankan pentingnya etika demokrasi dalam organisasi.

Ia menuturkan, “Prof. Nasar juga berharap, pada muktamar nanti bisa terpilih pemimpin NU yang jujur, amanah, luwes dan berintegritas,” menyoroti kriteria kepemimpinan yang diharapkan.

Dalam konteks pencalonan, Gus Salam menyampaikan kepada Menag bahwa ia telah diminta oleh para guru‑kiai untuk menggalang dukungan di PWNU dan PCNU.

Ia meminta izin resmi kepada Menag untuk bersilaturahmi dengan pimpinan PWNU dan PCNU yang sebagian besar merupakan ASN di bawah naungan Kementerian Agama.

Gus Salam menambahkan, “Saya juga minta izin Pak Menag untuk bisa bersilaturahmi dengan pimpinan PWNU dan PCNU yang sebagiannya ASN‑Pejabat Kemenag,” sebagai langkah memperkuat jaringan calon ketum PBNU.

Menag tidak menolak permintaan tersebut, melainkan memberikan restu bagi Gus Salam untuk melanjutkan dialog dengan para pemimpin NU di tingkat wilayah.

Kedua pihak sepakat bahwa silaturahmi ini dapat menjadi jalur komunikasi yang memperlancar proses pemilihan ketua umum PBNU pada Muktamar ke‑35.

Muktamar tersebut dijadwalkan akan berlangsung pada akhir Mei 2026, dengan agenda utama pemilihan pengurus pusat serta penetapan arah kebijakan organisasi ke depan.

Hingga akhir pekan ini, Gus Salam masih menunggu konfirmasi resmi dari PWNU dan PCNU, sementara Menag terus memantau dinamika internal NU untuk memastikan proses demokratis berjalan lancar.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.