Media Kampung – 15 April 2026 | Siswa SMP di Siak tewas saat praktik sains, polisi tetapkan guru pembimbing jadi tersangka. Insiden terjadi pada Rabu, 8 April 2026, di SMP Islamic Center Siak, Riau.
Korban adalah seorang siswa kelas IX berusia 15 tahun dengan inisial MAA yang bersama kelompoknya menyiapkan proyek senapan rakitan hasil cetak 3D untuk Science Show. Proyek tersebut dimaksudkan sebagai demonstrasi teknologi manufaktur aditif dalam mata pelajaran IPA.
Pada pukul sekitar 10.30 WIB, tim guru memerintahkan siswa melakukan uji coba fungsi senapan di ruang praktik. Saat pengujian, senapan tersebut meledak secara tiba‑tiba, melepaskan serpihan logam ke arah wajah dan kepala korban.
Petugas medis segera membawa korban ke RSUD Siak, namun luka pada kepala dan wajah menyebabkan korban meninggal dunia sesaat setelah tiba di rumah sakit. Tim medis menyatakan bahwa trauma kepala akibat serpihan tidak dapat diatasi.
Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar menjelaskan bahwa hasil penyelidikan awal menemukan adanya kelalaian serius dari guru pembimbing yang bertanggung jawab atas praktik tersebut. “Guru berinisial IP, 35 tahun, diketahui telah memperingatkan bahwa alat tersebut berpotensi meledak, namun tetap mengizinkan percobaan,” ujarnya dalam konferensi pers pada Selasa, 14 April 2026.
Penyidikan dipimpin Kasat Reskrim AKP Raja Kosmos, yang menyatakan bahwa bukti awal mengindikasikan guru tersebut tidak melakukan tindakan pencegahan yang diperlukan meski telah menyadari risiko. Tim forensik menemukan residu bahan peledak pada bagian laras senapan.
Berdasarkan temuan tersebut, Polres Siak secara resmi menetapkan guru IP sebagai tersangka dengan tuduhan kelalaian yang mengakibatkan kematian. Penetapan ini dilakukan setelah melakukan pemeriksaan saksi, termasuk siswa lain yang berada di sekitar lokasi saat ledakan.
Sekolah SMP Islamic Center Siak menanggapi kejadian dengan menutup sementara semua kegiatan praktikum laboratorium hingga penyelidikan selesai. Kepala sekolah menyatakan penyesalan mendalam dan berjanji meningkatkan prosedur keamanan di masa mendatang.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar mengirimkan tim inspeksi untuk menilai standar keselamatan laboratorium di sekolah-sekolah Riau. Tim tersebut akan memberikan rekomendasi perbaikan dan pelatihan bagi guru.
Kasus ini menambah daftar insiden serupa di Indonesia, di mana kecelakaan laboratorium sekolah menimbulkan korban jiwa. Pada tahun 2022, terjadi ledakan kimia di SMP di Jawa Barat yang menewaskan dua siswa.
Para ahli keselamatan pendidikan menekankan pentingnya prosedur risk assessment sebelum melakukan eksperimen yang melibatkan bahan berbahaya atau perangkat mekanik. Mereka menyarankan penggunaan alat pelindung diri dan pengawasan ketat oleh tenaga ahli.
Keluarga korban MAA mengungkapkan rasa duka yang mendalam dan menuntut pertanggungjawaban penuh atas kejadian ini. Mereka berharap proses hukum dapat memberikan keadilan dan mencegah kejadian serupa di masa depan.
Hingga saat ini, penyelidikan masih berlangsung, dan pihak berwenang belum menentukan hukuman akhir bagi guru yang menjadi tersangka. Sekolah berencana melanjutkan proses belajar mengajar dengan menyesuaikan kurikulum praktikum secara lebih aman.
Masyarakat Siak menanggapi insiden dengan keprihatinan, menuntut peningkatan pengawasan keselamatan di semua institusi pendidikan. Pemerintah daerah berjanji akan memperkuat regulasi serta melakukan audit rutin pada fasilitas laboratorium sekolah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan